Arsip Berita | Februari 2017
Hidayah untuk Syukur

  02 Februari 2017    1,963

Dua puluh tahun sudah Syukur Usman (40) merasa ada yang hilang dalam dirinya. Hatinya seakan kosong di tengah hingar bingar kenikmatan dunia. Hal tersebut diungkapkan Syukur di hadapan para Koordinator Daerah Rumah Tahfidz dan Kepala Cabang PPPA Daarul Qur’an yang kala itu menggelar rapat kerja..
di Hotel Cipayung Asri Bogor pada Januari lalu.

“20 tahun saya tidak kenal salat apa lagi mengaji,” ujar Syukur menampakkan penyesalan saat menceritakan kisah perjalanan hidupnya.

Siapa sangka Syukur pernah jadi santri Pondok Pesantren Darussalam Gontor, Jawa Timur. Namun, setelah lulus dari pesantren yang telah banyak melahirkan..
pemimpin-pemimpin umat Islam di Indonesia itu, Syukur melanjutkan kuliah di Universitas Borobudur Jakarta.

Saat usianya 25 tahun, Syukur sudah jadi project manager di salah satu perusahaan swasta yang bergerak dalam bidang kontraktor. Dia terjun langsung ke lapangan saat perusahaannya ingin membangun jalan, bandara dan gedung-gedung bertingkat..
di Padang maupun di wilayah Jakarta, Bogor, Tangerang dan Bekasi (Jabodetabek).

Setiap bulan, Syukur menerima uang puluhan juta dari hasil kerjanya. Namun, dana yang masuk kebanyakan tidak jelas sumbernya.

“Ya, saat itu nikmat dunia saya dapat. Tidak ada yang tidak kenal dengan saya. Preman pasar di Padang..
itu koordinasinya sama saya. Sementara di Jabodetabek saya yang koordinasikan truk-truk proyek saat ada pengurukan maupun pembangunan,” katanya.

Syukur merasa terpuruk ketika itu. Sampai akhirnya ia kembali bersua dengan dua sahabat lamanya saat menjadi santri di Pesantren Gontor setelah 20 tahun tak berjumpa. Mereka adalah Ustadz..
Ahmad Jameel yang merupakan Pemimpin Pesantren Tahfidz Daarul Qur’an dan Ustadz Solehuddin Pengasuh Rumah Tahfidz Center PPPA Daarul Qur'an.

Syukur tak mengerti saat Ustadz Jameel dan Ustadz Sholeh memberinya proposal Wisuda Akbar Tahfidz Qur’an. Yang ia tahu, wisuda itu hanya sebatas memakai toga.

“Mereka datang ngasih proposal..
Wisuda Akbar, ini apa saya pikir ? 20 tahun saya ninggalin habis dari Gontor. Enggak kenal tahfidz, gak kenal Qur'an. Saya dari Gontor tapi baca Qur’an enggak, puasa apa lagi. Sampai Wisuda Akbar berlalu,” tuturnya.

Namun, ada yang membuat hatinya terketuk saat bertemu pemuda bernama Nurul..
Hadi, seorang Qori dan Hafidz Qur’an yang tengah melanjutkan sekolah ke jenjang Strata 2 (S2). Syukur merasa malu si pemuda bertanya kepadanya cara menghafal Alqur’an 30 juz.

Dia heran, saat Nurul Hadi khatam menghafal 30 juz hanya dalam waktu tiga bulan. Hatinya bergejolak karena merasa pernah..
jadi santri di pesantren ternama namun belum punya hafalan Qur’an bahkan ibadah wajib saja ia tak pernah. Nikmat dunia yang ia dapati menjauhkannya dari Sang Pencipta.

“Aku ini dari Gontor loh. Segala macam organisasi yang ada di pesantren pun aku ikuti,” tuturnya.

Dia bersuykur Allah memberinya hidayah..
melalui dua sahabatnya dan juga Nurul Hadi. Kini Syukur tengah mengelola empat Rumah Tahfidz yang ada di Sumatera Barat. Dengan 149 santri yang rata-rata sudah menghafal 3 juz. Nurul Hadi pun kini jadi salah satu pengasuh santri-santri tersebut, hidupnya kini berkonsentrasi untuk melahirkan para penghafal..
Al Qur'an.

“Alhamdulillah, ini suatu taubat hati. Sahabat-sahabat saya memberikan amanat yang belum pernah saya terima yakni amanat akhirat. Karena sebelumnya saya hanya menerima amanat dunia. Mudah-mudahan Alqur’an bisa menghapus dosa-dosa saya yang telah lalu,” tutur Syukur mengakhiri cerita kisah hidupnya.

Geser halaman untuk melihat halaman lainnya..



Berita terakhir lainnya pada periode ini ..