Arsip Berita | Mei 2017
Biarlah Daun Berguguran, Kami akan Terus Menghafal

  31 Mei 2017    719

Pulau Lombok selalu menarik perhatian para pelancong. Baik pelancong dalam negeri, maupun pelancong asing. Keindahan alamnya dari dasar laut hingga puncak tertingginya di Gunung Rinjani membuat mata tak bergeming kagum.

Meski begitu, jarang khalayak tahu bahwa di pulau yang dijuluki sebagai “Pulau Seribu Masjid” ini, di beberapa titiknya, ancaman kekeringan kerap melanda. Pun dengan Rumah Tahfizh Daarul Qur’an Al Azhar di Janapria, Lombok Tengah, tak bisa menampik ancaman kekeringan itu.

Saat hujan enggan datang, Rumah Tahfizh yang berdiri di tengah kebun tak terpakai, bertembok bedek (orang jawa biasa menyebutnya gedek), dan beratap seng ini, mulai terancam.

Pasalnya, saat hujan enggan datang, daun-daun lebat di kebun mulai berguguran, meranggas, kering dan tak berdaun lagi. Hingga akhirnya semua tumbuhan akan mati. Kawasan sekitar Rumah Tahfizh saat musim kering menjadi kawasan mati bak tanpa kehidupan.

Air memang menjadi sumber kehidupan. Tanpa air, hidup menjadi terhimpit. Saat musim kering melanda, keperluan untuk Mandi, Cuci, Kakus (MCK) menjadi kendala.

"Untuk urusan minum, masih bisa teratasi dengan membeli air galon. Nah, untuk cuci dan kakus? Susahnya minta ampun!" ujar Ustad Lukman Pengurus Rumah Tahfizh Daarul Qur'an Al Azhar Janapira.

Karena masalah MCK itu, rumah tahfizh ini akhirnya tak bisa menampung banyak santri yang ingin mukim. Hanya beberapa saja santri mukim, selebihnya adalah santri kalong atau pulang-pergi. Padahal, permintaan santri yang ingin mukim di Rumah Tahfizh Janapria amatlah banyak.

“Apa boleh buat, untuk saat ini kami hanya bisa menampung beberapa santri mukim saja karena kendala MCK," tutur Lukman.

Eloknya, meski bertarung dengan panas dan kekeringan, Rumah Tahfizh Daarul Qur’an Al Azhar Janapria tetap menjadi tempat yang meneduhkan bagi jiwa. Menjadi tempat berkumpulnya para santri penghafal Alqur'an untuk berteduh dari sengatan panasnya dunia. Tak sedikit masyarakat Lombok Tengah yang berbondong-bondong datang mengaji dan menghafalkan Alqur’an di rumah tahfizh ini.

Ratusan santri kalong tiap harinya terus berdatangan untuk mendawamkan dan menghafalkan Alqur’an. Pun begitu dengan santri mukim yang bertahan.

Padahal, andai saja hujan rutin datang, para santri pastilah makin bersyukur karena bisa menanam sayuran dan pepaya di samping rumah tahfizh. Namun, ketika hujan enggan datang, mereka akan tetap sekuat tenaga bertarung dengan keadaan itu.

Seolah para santri dan Ustad Lukman berkata, "Biarlah hujan enggan datang dan tanah menjadi kering. Tetapi lidah ini akan selalu kami basahi dengan lantunan ayat-ayat suci Alqur’an".

Meski keadaan saat musim kemarau begitu pelik, Rumah Tahfizh Janapria akan terus bertahan. Seolah para santri punya tekat kuat untuk membasahi tanah Janapria dengan air mata kebahagiaan.

"Lho, air mata kebahagiaan? Ya, benar. Air mata kebahagiaan ketika kelak kami semua bisa menghafalkan Alqur’an hingga khatam 30 juz. Biarlah daun berguguran, kami semua akan terus menghafal," ucap Lumkan.



Berita terakhir lainnya pada periode ini ..