Artikel
Dua Tahun Sedekahonlinecom

  234


Oleh Tarmizi As Shidiq

Meski sudah lama berlangsung, internet masih menjadi fenomena. Pro dan kontra masih mewarnai perkembangan internet. Namun begitu, suka tidak suka kita harus menghadapinya karena internet telah menjadi bagian dari kehidupan manusia saat ini.

Di saat banyak generasi tua mengutuk internet dan dampaknya, generasi internet, mereka yang lahir antara 1990-an hingga 2000-an, menyikapi internet dengan berbeda. Dengan pengetahuan mereka para generasi internet menjadikan perkembangan teknologi ini menjadi sesuatu yang bermanfaat tak hanya bagi pribadi sendiri tapi juga komunitas mereka bahkan kita semua.

Mari kita lihat faktanya. Banyak startup digital yang kini akrab dengan kehidupan kita seperti transportasi online dan situs belanja online dibangun oleh generasi muda. Disana kita mengenal nama seperti Nadiem Makarim pendiri Gojek atau Ahmad Zaki yang mendirikan Bukalapak, serta Paytren, aplikasi e-money yang telah mendapat sertifikasi dari Bank Indonesia, yang didirikan KH Yusuf Mansur. Dengan pengetahuan mereka mengubah ketakutan menjadi sebuah kekuatan. Mereka menganggap internet layaknya pisau yang manfaatnya tergantung siapa penggunanya.

Generasi internet berusaha menjawab berbagai tudingan dengan aksi nyata. Di saat mereka dituding anti sosial mereka membangun startup crowdfunding yang menjadi ajang mereka berbagi untuk membantu sesama. Penelitian pun menunjukkan semangat mereka berbagi dan terlibat untuk membantu sesama sangat tinggi.

Semangat generasi internet yang juga banyak disebut generasi milenial untuk berbagi sangat tinggi. Jika melihat suatu kondisi yang memprihatinkan mereka akan langsung mengeluarkan gadget, memfoto sertai memberi caption untuk kemudian langsung mengupload di sosial media mereka. Efeknya? akan banyak yang bertanya dan ingin terlibat membantu. Kita masih ingat ketika seorang netizen memposting seorang kakek yang sedang menunggu pembeli di kedai nasi uduknya hingga tertidur di saat nasi uduknya masih banyak.

Netizen tersebut iba dengan kondisi warung nasi uduk sang kakek, ia pun membeli. Merasa tidak cukup dengan membeli ia mengisahkan kondisi warung tersebut lengkap dengan foto dan alamatnya. Dalam beberapa hari postingan tersebut viral dan warung nasi uduk sang kakek ramai dengan pembeli.

Semangat untuk memberi inilah yang direspon PPPA Daarul Qur'an dengan membangun situs sedekahonline.com dengan tujuan memudahkan donatur menyalurkan donasinya pada sejumlah program unggulan dan reguler yang bisa diakses kapan saja dan dimana saja. Sejak diluncurkan pada 2016 lalu platform ini mendapat respon baik dari masyarakat. Tercatat pada tahun 2018 ini sedekahonline.com mampu menghimpun donasi hingga Rp11 Miliar.

Dana yang terhimpun ini kami salurkan dalam sejumlah program unggulan dan reguler. Tahun 2018 ini kami mempunyai dua program besar membantu korban bencana di Lombok dan Sulawesi Tengah. Tidak hanya membantu saat keadaan darurat, kami juga berikhtiar membangun ribuan rumah bagi korban bencana di kedua daerah tersebut.

Berbagai program di sedekahonline.com pun juga banyak berasal dari respon masyarakat seperti pasangan penjual pisang, Sanusih dan Werih yang viral berkat kedermawanannya. Ketika itu viral kisah Sanusih dan Werih yang mesti sudah berusia lanjut masih bersemangat mendorong gerobak pisangnya. Meski berjalan tak lagi tegak ia masih harus bekerja keras untuk menyambung hidup sekaligus membantu anak-anaknya. Di tengah keterbatasannya ia tidak melupakan untuk berbagi. Setiap hasil berjualan pisangnya ia sisihkan untuk dibagikan kepada sesama sekaligus ia menyelipkan doa untuk bisa berangkat umroh.

Kami mengangkat kisah Sanusih dan Werih ini untuk mengajak masyarakat membantu cita-citanya. Alhamdulillah donasi terkumpul hingga kedua pasangan ini terjadwal berangkat umroh pada Bulan Desember 2018. Namun takdir bicara lain sebelum menunaikan umroh Pak Sanusi meninggal dunia karena sakit yang dideritanya. Insya Allah pahala umroh sudah beliau dapatkan dan terima kasih atas inspirasinya pada kita.

Kisah lainnya tentang guru ngaji bernama Sugiharto yang tetap mengalirkan ilmunya dalam keadaan terlentang karena lebih dari separuh tubuhnya lumpuh akibat kecelakaan yang dialami sepulang ia megaji pada 2002 lalu. Lewat donasi yang dihasilkan kami membawa Sugiharto ke rumah sakit untuk memeriksa penyakitnya sekaligus membersihkan luka-lukanya serta memberi modal untuk ibunya membuka usaha di depan rumahnya. Kami juga bekali Sugiharto dengan Satu set kitab Fathul Bahri dan 40 mushaf Al-Qur’an untuk menyokong dakwahnya. Sejak itu yang mengaji di kamar Sugiharto tidak hanya anak-anak tetapi juga orang dewasa. Kami terus membersamai Sugiharto hingga ia menghembuskan nafas terakhirnya pada Agustus 2018 lalu.

Sedekaholine.com pun terus berinovasi dengan kehadiran fitur Zakat dan Wakaf. Untuk semakin mengenalkan paltform ini kami juga bekerjasama dengan berbagai merchant seperti Tupperware Kreo (Ciledug), Cafe Strawberry Tanjung Duren (Jakarta Barat) dan lainnya, dimana para donatur sedekahonline bisa mendapatkan potongan harga dengan menunjukkan kartu Daqu Card. Kami mengucapkan terima kasih kepada para donatur semoga apa yang telah diberikan mendapatkan balasan dari Allah swt dan bisa mewujudkan terciptanya penghafal Al-Qur’an di Indonesia.



Artikel lainnya ..


Arsip Artikel