Berita
Gema Qur'an di Antara Sesajen Pulau Dewata

  28 Mei 2017    21

Rumah Tahfizh Wahdatul Kautsar menyelip diantara Pura dan pemukiman umat Hindu di Jalan Pulau Nusa Penida No.54, Sanglah, Denpasar, Bali. Hanya tiga rumah yang tercatat sebagai muslim di pemukiman ini, selebihnya adalah umat Hindu sebagai warga asli.

Bagi yang sudah pernah ke Bali, akan paham, di setiap sudut pulau Bali pasti ada sesajen, lengkap dengan segala macam ubo rampe-nya. Baik itu bunga mekar, makanan, dupa dan kemenyan. Pun di Rumah Tahfizh Wahdatul Kautsar, di depannya selalu ada sesajen. Seringkali lantunan Alqur'an terdengar lirih diantara bau dupa dan kemenyan.

Ya, memang begitu keadaannya. Bukan rumah tahfizh ini yang membakar sesajen itu. Bau dupa dan kemenyan berasal dari sesajen tetangga. Mau tak mau, aroma bakaran dupa dan kemenyan terhembus ke segala penjuru dan aromanya wajib tercium oleh siapa saja, termasuk di Rumah Tahfizh Wahdatul Kautsar.

Namun, itu semua tak jadi soal. Rumah Tahfizh Wahdatul Kautsar dengan suara lirihnya tetap mendaras Alqur'an di antara bau sesajen itu. Bahkan, mereka tak mau pakai pengeras suara agar tak mengganggu tetangga.

Pengurus Rumah Tahfizh Wahdatul Kautsar yang biasa disapa Haji Surya, selalu berusaha menjaga hubungan baik dengan siapapun, terutama para tetangga. Meski beda keyakinan, hubungan dengan tetangga selalu baik, tentram, dan damai. Bahkan, saat hari raya kurban, Rumah Tahfizh Wahdatul Kautsar tak pernah menyembelih sapi. Ini sebagai wujud menghargai dan menghormati para tetangga yang tak makan sapi.

“Kita kalau hari raya kurbanatau kalau kepingin makan daging, lebih memilih menyembelih kambing agar dagingnya bisa dibagi ke tetangga,” ucap Surya.

Laku yang ditempuh Rumah Tahfizh Wahdatul Kautsar ini mampu menampakan wajah Islam yang Rahmatan Lil Alamin. Menunjukan bahwa Islam is softness, not hardship. Islam adalah rahmat bagi apa saja dan siapa saja. Pun termasuk rahmat bagi yang keyakinannya berseberangan dengan Islam, seperti di pulau Bali ini.

Melalui Rumah Tahfizh Wahdatul Kautsar, Islam tergambarkan sebagai agama yang santun dan mampu menunjukkan bahwa dalam kondisi apapun, dimanapun, Islam tetap bisa memancarkan cipratan rahmat ke siapa saja dan apa saja. Bahkan, meski dikepung pergaulan bebas di Pulau Dewata, Rumah Tahfizh Wahdatul Kautsar tetap fokus mendaras Alqur'an dan mencetak generasi Qur'ani di Pulau Bali.

Rumah Tahfizh Wahdatul Kautsar seolah jadi oase bagi muslim di Denpasar. Menjadi tempat berkumpul, bertemu, beribadah, dan menghafalkan Alqur'an. Terlebih pada ramadan kali ini, rumah tahfizh inimenjadi salah satu meeting point bagi muslim Denpasar untuk berkumpul dan beribadah.

Alhamdulillah, muslim Denpasar khususnya keluarga besar Rumah Tahfizh Wahdatul Kautsar sangat senang dengan kedatangan tim Rumah Tahfizh Center (RTC) yang membawa buah tangan berupa mushaf Alqur’an hafalan. Hati para santri langsung mekar ketika menerima Alqur’an hafalan tersebut.

InsyaAllah, dengan distribusi Alqur’an ini, seluruh santri Rumah Tahfizh Wahdatul Kautsar akan lebih bersemangat mendaras, menghafal, mentadaburi, dan mengamalkan Alqur’an. Dengan begitu, gema Qur’an akan terus terdengar di Pulau Dewata, meski harus menyelip dalam kepungan bau dupa dan dinding-dinding Pura tetangga.



Berita terakhir lainnya ..