Berita
Merantau Bersama Al-Qur'an

  15 Februari 2018    286

Tekad kuat untuk membangun Indonesia menjadikan semangat dirinya untuk tetap berjuang dimanapun, utamanya di tempat-tempat yang pernah terjadi bencana. Hampir 2 tahun menjalani kehidupan sebagai Da'i di perantauan digeluti dengan nikmat. Dirubahnya kata suka-duka menjadi suka-cita. Karena ia merasa tidak ada dukanya, dan sukanya begitu banyak.

“Nek mati dijalan Allah, ya inilah jalan kita. Siap dalam kondisi apapun, siap kapanpun dan dimanapun. Dimana ada Masjid, itu rumah Allah, maka saya pilih untuk singgah ke situ. Dimana ada Mushola disana saya berada, dimana ada orang muslim, itu saudara saya”, tutur lembut Ust Dafi (28) yang mengingatkan sekaligus sebagai tamparan bagi kita yang masih ragu-ragu dalam berdakwah.

“Sikap berdo’a...?’’,  begitulah Ust Dafi memimpin berdo’a setiap kali mengaji. Pria muda asal Lombok itu membimbing santri-santrinya, tangannya menengadah, dengan suara keras yang terdengar seisi ruangan dan ritme yang pelan menyesuaikan santri-santrinya berdo’a dengan khidmat.

Surat Al Fatihah dan doa awalan belajar terdengar indah dibacakan para santri secara bersama-sama. “Ustadz mau nanya nih,” belum selesai bertanya, suara Mufid, salah satu santri memotong pertanyaan Ust Dafi, dan memecah suasana.

“Gerhana bulan Ustadz?”, seisi ruangan dibuatnya tertawa. Ust Dafi belum bertanya sudah dijawabnya. Akhirnya Ustadz bertanya, “Semalam ada kejadian apa?” tanya Ustadz.

“Gerhana bulan Ustadz”, serempak santri menjawab. Lalu ditanya lagi, "kenapa bisa terjadi gerhana bulan?" Semua diam, lalu ada satu santri yang jawab “bumine dipangan buto Ustadz” jawab Tito, salah satu santri. Seketika Ust Dafi mengerutkan dahi pertanda tidak paham terhadap jawaban yang disampaikan dengan bahasa jawa tersebut. Kemudian ada santri yang menerjemahkan  maksudnya adalah karena buminya dimakan raksasa.

Tertawalah Ustadz dengan dibarengi senyum kecil para santri. Kemudian dijelaskannya secara ilmiah kenapa bisa terjadi gerhana bulan. Demikianlah Ustadz memberikan pertanyaan-pertanyaan kepada santrinya sebelum masuk ke agenda inti.

Menjadi seorang da’i di tanah rantau sudah menjadi jalan yang dipilihnya. Kampung Qur'an Merapi menjadi tempat pertama kali beliau berdakwah melalui PPPA Daarul Qur’an. setelah itu, beliau bertolak ke Rukem, Sidomulyo, Purworejo. Sebuah kampung di ujung bukit yang pada saat itu sedang terjadi bencana tanah longsor. Sampai saat ini, beliau masih bertugas di Kampung Qur’an Rukem.

Selain dikenal ramah, Ust Dafi juga supel pada santri. Beliau juga memposisikan diri kepada santrinya sebagai seorang teman, sehingga membentuk  keakraban antara keduanya. Misalnya,  ketika sedang bermain kelereng, bermain kasti, bermain sepak bola, termasuk memancing, Ust Dafi ikut bermain bersama.

Pria yang lahir sebagai anak ke 2 dari 6 bersaudara ini sejak kecil sudah terbiasa ditinggal orang tuanya ke luar negeri untuk urusannya . Karena itulah beliau menjadi pribadi yang mandiri. Terlebih menjadi seorang Da’i di perantauan, saat ini beliau juga sedang mengerjakan tesis untuk menyelesaikan studi pascasarjana di Universitas Islam Indonesia (UII Yogyakarta).

Photo lainnya dalam Berita ini ..




Berita terakhir lainnya ..