Berita
Dari Shelter Tahfizh menjadi Kampung Qur'an Sadaunta

  23 Oktober 2018    242

Gempa bumi 7,4 SR yang melanda Palu, Sigi, Donggala dan Parigi (Sulawesi Tengah) menyisakan duka amat mendalam. Kita diperlihatkan bagaimana Petobo, Balaroa, Jono Oge dan Sibalaya tenggelam. Pun tsunami yang menghantam Teluk Palu mengakibatkan Ribuan orang hilang dan meninggal. Para korban juga kehilangan tempat tinggal karena tanah bergeser dan likuifaksi menelan rumah-rumah mereka.

PPPA Daarul Qur’an menerjunkan tim Santri Siaga Bencana (SIGAB) melalui jalur Makassar-Mamuju-Polewali Mandar-Palu untuk membantu evakuasi, distribusi logistik, pembuatan shelter darurat dan gerilya layanan medis. Tiga pekan lebih bergerak di fase emergency, PPPA mencoba menawarkan konsep Integrated Tahfizh Shelter (ITS) sebagai solusi bagi warga yang kehilangan rumah akibat likuifaksi, terutama di Kelurahan Petobo, Palu Selatan.

Konsep ITS yang direncanakan dengan 300 hunian sarana ibadah, air bersih, toilet, pengembangan tahfizh dan dakwah memang sangat ideal. Hunian ini diperkirakan maksimal dapat ditempati warga selama dua tahun sembari menunggu warga direlokasi ke tempat yang permanen. Setelahnya akan dihibahkan kepada masyarakat setempat untuk menjadi pesantren. Dengan harapan sarana yang sudah dibangun tetap hidup dan menjadi program jangka panjang.

Setelah tim melakuan assessment, Alhamdulillah banyak respon warga untuk menawarkan lahan. Baik di wilayah Palu maupun Sigi. Namun, setelah melakukan pendalaman, tim memutuskan untuk mencari alternatif program selain shelter. Hal itu lantaran lahan-lahan yang ada di Petobo, mayoritas sengketa. Sehingga tidak bisa digunakan untuk pengembangan program pasca shelter pengungsian.

Saat ini, PPPA hanya bisa membuat shelter-shelter darurat di Petobo. Kemudian, pemerintah meminta pengungsi likuifaksi Petobo untuk menempati shelter-shelter darurat yang ada di wilayah Petobo, bukan di wilayah kabupaten lain. Karananya, opsi membuat ITS di Kabupaten Sigi sulit diwujudkan. Apalagi, jarak Petobo dengan rencana lahan ITS di Sigi sejauh 15 KM. PPPA pun memutuskan untuk mengganti strategi pembangunan ITS menjadi Kampung Qur’an.

Dalam kegempaan, sejatinya yang hilang adalah atap berteduh. Sedang mata pencaharian tetaplah utuh. Namun warga tak mungkin hidup normal dan kembali ke ladang jika masih tidur di tenda beralas tanah. Oleh karena itu, pasca gempa Sulawesi Tengah ini, PPPA Daarul Qur’an akan membangun Kampung Qur’an, sebuah kawasan pengembangan masyarakat berbasis tahfizul Qur’an pasca bencana. Lokasi Kampung Qur’an di Dusun Sadaunta, Desa Namo, Kecamatan Kulawi, Kabupaten Sigi.

Profil Kampung Qur’an Sadaunta

Sadaunta tepat berada di bawah Taman Nasional Lore Lindu. Dapat ditempuh tiga jam dari Palu melalui jalur perbukitan yang sebagian bekas longsor. Sadaunta sempat terisolir akibat akses jalan terputus. Sehingga bantuan logistik didistrbuikan dengan helikopter.

Sadaunta adalah dusun kecil yang dihuni sekitar 40 Kepala Keluraga (KK) dengan masyarakat 100 persen muslim. Berada di daerah ketinggian, mayoritas penduduk Sadaunta adalah petani kakao. Seluruh warga kini bertahan hidup ditenda-tenda seadanya. Pascagempa tak ada satupun dari mereka yang berani tidur di rumah, apa lagi rumah-rumah mereka kini sudah tak layak dihuni kembali. Karenanya, PPPA Daarul Qur’an akan membangun 40 rumah Qur’an dan masjid di Dusun Sadaunta. Rumah Qur’an dibangun dengan konsep Recycle House, memanfaatkan sisa puing rumah yang masih bisa digunakan.

Pembangunan rumah menggunakan metode berkelompok, sehingga mentransformasi nilai kegotong-royongan warga. Juga, didampingi da’i untuk pendampingan spiritual dan aktivasi kegiatan tahfizh. Konsep ini telah digunakan PPPA Daarul Qur’an sebagai pendekatan program Kampung Qur’an pasca becana di beberapa tempat seperti Halmahera, Merapi dan Lombok. Saat ini telah lahir generasi penghafal Qur’an di daerah-daerah tersebut. Halmahera sendiri tepatnya Desa Bobanehena sudah jadi kampung wisata religi dengan anak-anak pengahfal Qur’an di setiap sudut kampung.

Kampung Qur’an diharapkan membuat masyarakat Desa Sadaunta kembali bergeliat dengan membangun rumah dan masjid mereka. InsyaAllah, Sadaunta akan seperti Halmahera, Merapi dan Lombok. Kampung ini akan jadi pusat pengembangan tahfizh dan melahirkan penghafal-penghafal Qur’an baru. Aamiin.

Photo lainnya dalam Berita ini ..




Berita terakhir lainnya ..