Berita
Pahlawan Quran Setelah Lumpur Cibengang

  11 November 2018    650

"Kepada Sang Merah Putih, hormaat graaaak!"

Teriakan lantang satu bocah berdiri di tengah latar MI Cibengang, tempat pemberhentian kami beberapa menit yang lalu. Sekitar 150 siswa terlihat khidmad menempelkan tangan kanan di dahi menghadap sang merah putih. Seketika kami spontan turut mengenang perjuangan negeri di 10 November di Surabaya.

Rasanya 30 menit perjuangan kami menyusuri jalan di tengah belantara Hutan Cineang, Tasikmalaya belum seberapa. Terjalnya perjalanan di atas bebatuan hutan berlumur tanah lumpur sisa hujan semalam meleok-leokan roda kendaraan kami tidak sebanding dengan perjuangan senjata para pejuang sebelum kemerdekaan. Perjalanan menuju MI Cibengang lantas menyadarkan kami bahwa masa perjuagan belum selesai untuk para generasi selanjutnya.

Semangat bocah-bocah dari Kampung Cibengang, Desa Melatisuka, Kec. Gunung Tanjung, Tasikmalaya yang jauh dari fasilitas justru masih berkobar untuk terus berpendidikan, Sandal jepit dan sepatu mungil berlumuran lumpur menjadi bukti perjuangannya untuk mengenal ilmu pengetahuan. Juga takzim pada para guru MI Cibengang yang menjaga kesederhanaan dalam mengajar dengan minim fasilitas, menjadi bukti  perjuangan pasca 73 tahun kemerdekaan negeri.

Sambutan hangat menjamu silaturahim kami dengan sembilan pejuang negeri yang  tergabung di Program Simpatik Guru PPPA Daarul Qur'an, satu program yang memberi dukungan finansial kepada para Pejuang Qur’an di pelosok negeri untuk tetap menjaga kesetiaan mendakwahkan Al Qur’an. Selepas aksi Mobile Qur’an (MOQU) yang mengedukasi anak-anak untuk dekat dengan Al-Qur’an, sahut-sahutan kisah perjuangan dakwah Qur'an di tengah hutan atas bukit ini dikisahkan satu per satu. Alhamdulillah, secara kompak para guru mengaku setelah silaturahim yang terjalin sejak dua tahun lalu dengan PPPA Daarul Qur'an sangat membantu aktivitas mereka mendidik anak-anak Cibengang.

Pertemuan pada 10 November 2018 ini mengucap banyak kisah tentang perjuangan yang tak pernah berhenti untuk membangun negeri. Sembilan pejuang Qur’an di Cibengang pun tak lantas ingin tenar. Sepatu berlumpur para guru Qur’an akan terus setia melangkah bersama kaki kecil anak-anak kampung Cibengang. Semoga akan lahir banyak pejuang di antara anak-anak Cibengang untuk negeri pada esok hari. Pada Hari Pahlawan tahun ini, terimakasih untuk para pejuang Cibengang dan dimanapun lainnya yang tidak lelah mendakwahkan kebaikan dan Al Qur’an. Takbir

Photo lainnya dalam Berita ini ..




Berita terakhir lainnya ..