Berita Cabang | Semarang

Merdu Corong Masjid Baiturohman

  28 Mei 2018  

Cuntel (23/5), "Walaqad zayanassamaaawaaati..., walaqad zayyanassamaaa addunya...", Dwi terbata membaca Surat Al Mulk. Seteah Zuhur di Masjid Baiturohman, Cuntel, Kabupaten Semarang, dua remaja tertatih mengaji. Suara mengaji tidak terdengar lancar di corong pengeras suara satu-satunya masjid di kampung teratas di lereng Gunung Merbabu. Surat Al Mulk cukup berat dibaca, dua atau tiga kali Dwi dan Putri mengulang setiap ayat yang dibacanya bergantian. 30 menit lebih berlalu, 30 ayat Al Mulk habis dibaca.

Masjid Baiturohman tidak lepas menggemakan suara mengaji Al Qur'an di setiap setelah salat lima waktu. Meski tak terbata, jamaah Masjid Baiturohman tetap meneruskan kebiasaan baiknya. Pun tidak ramai jamaah masjid di kampung dengan Muslim minoritas ini, istiqomah adalah satu-satunya cara bertahan dari waktu dan jaman. Sepinya masjid dari jamaah juga tidak terlepas dari air yang mengalir pelan dari selang-selang sebesar jari kelingking dari mata air atas lereng gunung sejauh tiga kilometer menuju masjid dan rumah-rumah warga muslim.

Doa dalam bertahannya jamaah Masjid Baiturohman menjelma mustajab. Seperangkat instalasi air telah dibangun perlahan oleh para bapak dan kakek, pun beberapa nenek yang memanggul batu bata, semen, pasir ke lereng atas bukit. Satu bangunan besar tandon air berkapasitas 60.000 liter kini nampak gagah, sedang diselesaikan pembangunannya. Satu per satu lembar papan cor dilepas, air dari atas gunung siap dialirkan oleh beberapa kakek dan bapak meski dalam kondisi berpuasa.

Mbah Kemi, salah seorang pengurus Masjid Baiturohman, telah memimpikan sejak lama tentang air yang mengalir deras ke masjid untuk keperluan ibadah dan kebutuhan warga. Air, adalah satu-satunya jalan agar Islam dapat berkembang dan menjadi sebab masjid menjadi ramai di kampung yang seringkali berselimut kabut. Ingatannya selalu membayang, sejak awal Mbah Kemi seringkali berjalan naik turun gunung membenahi selang yang koyak atau hanyut. Membayangkannya pun melelahkan rasa Mbah Kemi di usianya kepala tujuh.

Air deras mengalir ke Masjid Baiturohman adalah jalan dakwah Qur'an Mbah Kemi dan tim PPPA Daarul Qur'an yang didukung oleh Yayasan Hasanah Titik dan BNI Syariah. Putri dan Dwi, dua remaja putri yang terbata mengaji hari ini, serta banyak remaja lain kelak akan mengaji dengan merdu dan lancar di corong Masjid Baiturohman. Suaranya akan menggema di seluas lereng Merbabu, beiring merdu hafalan Al Qur'an dan sholawat, adalah mimpi sekian puluh tahun generasi Mbah Kemi hari ini yang perlahan mewujud lewat air bersih yang mengalir ke masjid.

Bismillah, Ramadan 2018 ini, bersama tandon sebesar 5x4x3 meter, semoga Islam dan kedamaian mulai mewarnai semangat muslimin di Dusun Cuntel, Kabupaten Salatiga mendakwahkan Al Qur'an untuk masyarakat Merbabu dan lahir banyak Penghafal Al Qur'an dari Masjid Baiturohman.

Photo lainnya dalam Berita ini ..




Berita lainnya ..