Arsip Berita | Desember 2014
Syiar Melalui Hafalan Qur’an

  29 Desember 2014    1,665

Heboh para tetangga, saat Ny Watrineli tiba-tiba memasang tenda dan kursi hajatan di halaman rumahnya yang sempit, Kamis 25 Desember lalu. Apa perempuan yang sudah ditinggal mati suaminya ini hendak menikah lagi?

Ternyata bukan. Ny Watrineli memasang tenda untuk acara Evaluasi Halafan Qur’an kedua anaknya, Azizah dan Hamdi. Kakak-beradik ini adalah santri Rumah Tahfidz Al Azmy Kampung Pondokmiri, Desa Rawakalong, Kec..
Gunungsindur, Bogor. Bersama delapanbelas rekannya, mereka tengah mengikuti evaluasi kwartalan yang berlangsung pada 25 Desember 2014 hingga 7 Januari 2015.

Ustadz Muslihan Bashri Al Hafidz, pembimbing Rumah Tahfidz Al Azmy, menjelaskan, kwartalan ini merupakan kali yang kelima. ‘’Tujuannya untuk mengevaluasi hafalan santri, agar hafalannya terpelihara, lancar, dan tidak hilang,’’ tutur sarjana alumnus Perguruan Tinggi Ilmu Qur’an Jakarta Selatan itu.

Ia menambahkan, saat..
ini jumlah hafalan santrinya bervariasi antara 3,5 hingga 11 juz. Dalam kwartalan, satu persatu dari mereka melafalkan hafalannya, yang dinilai seorang juri dari Majelis Hufadz. Setiap santri dinilai oleh juri yang berbeda. Penilaian meliputi ketepatan dan kelancaran hafalan. Saat melafalkan Qur’an di rumah masing-masing itu, mereka juga disimak pembimbing, kawan-kawan santri, dan kedua orangtua atau walinya. Bahkan kadang hadir juga..
tamu penyimak. Misalnya ketika giliran Adam Ramadani pada Ahad (28/12) turut disimak guru dan santri Pesantren Media dari Bogor.


Kwartalan ini sekaligus juga merupakan syiar untuk memasyarakatkan Al Qur’an. Menurut tokoh masyarakat Pondokmiri, Sunaryo Adhiatmoko, saat ini santri tahfidz Qur’an sudah menjadi kebanggaan masyarakat.

‘’Mereka ramai-ramai mendaftarkan anaknya untuk jadi santri tahfidz, karena sudah melihat kebaikan hasil program ini bagi..
keluarga santri dan masyarakat sekitarnya,’’ terang Sunaryo.

Menghadapi ghirah masyarakat, Rumah Tahfidz Al Azmy yang dibina PPPA Daarul Qur’an membuka kelas tahsin dan pra-tahfidz. Jika tahsin-nya sudah lulus, santri berkesempatan masuk kelas pra-tahfidz. Dan jika sudah memenuhi minimal hafalan, dipersilakan melanjutkan ke kelas tahfidz.

‘’Jadi kami tidak sembarangan menghasilkan hafidz Qur’an. Seorang hafidz Qur’an bukan sekadar pernah hafal Qur’an, tapi hafalannya hidup..
dan benar,’’ ujar Ustadz Muslihan.

Ia lalu menerangkan pentingnya tahsin atau perbaikan bacaan dalam Program Tahfidz Qur’an. Membaca Al Qur’an secara tartil adalah kewajiban. Sesuai firman Allah SWT: ‘’Dan bacalah Al Qur’an dengan tartil’’ (QS Al Muzammil 73:4).

Mengutip para ulama, membaca Al Qur’an tanpa tajwid sebagai suatu lahn (kesalahan). Imam Jalaluddin as-Suyuthi menjelaskan, ada 2 jenis lahn yaitu lahn jaly atau..
kesalahan yang nyata pada suatu lafadz, yang berpotensi mengubah makna secara diametral. Misalnya lafadz qalbu (hati atau pemikiran) dengan kalbu yang artinya anjing.

Kesalahan berikutnya disebut lahn khafy, yaitu kesalahan yang tersembunyi pada lafadz. Ini hanya diketahui oleh ahli Qiroat. Ustadz Muslihan menambahkan, sejumlah kesalahan lain dalam tilawah Qur’an adalah pengucapan huruf yang tidak sesuai dengan makhraj-nya; Inkonsisten panjang-pendek bacaan; Ketidakseimbangan..
dalam membaca dengung (ghunnah), dan memantulkan huruf sukun selain qolqolah.
Melalui Kwartalan yang diselenggarakan secara reguler, dimaksudkan agar para santri Rumah Tahfidz Al Azmy memiliki kualifikasi standar yang ditetapkan PPPA Daarul Qur’an.

Geser halaman untuk melihat halaman lainnya..



Berita terakhir lainnya pada periode ini ..