Arsip Berita | Februari 2014
Ujian Tahsin Qur’an Menyatukan Ortu Santri

  03 Februari 2014    2,266

Walau awalnya agak grogi, Renisa Mahasti (15) berhasil merampungkan bacaan Al Qur’an yang dihafalnya. Dalam tempo sekitar dua jam, Nasya, nama panggilannya, lancar dan cukup benar melafalkan Juz 30 (Juz Amma), Surat Al Muzammil 1-17, dan 4 Surat Pilihan (Al Mulk, Ar Rahman, Yasiin, Al Waqi’ah). Secara keseluruhan ia berhasil membacakan di luar kepala hampir 1000 ayat Qur’an.

‘’Lumayan bagus,’’ komentar Ustadzah Dedeh Mardliyah, salah satu juri tes konprehensif Nasya. Juri lain, Ustadz Abdul Aziz, memberikan penilaian serupa.

Nasya mengaku sempat deg-degan mendapat giliran pertama dalam Kwartalan III Rumah Tahfidz Al Azmy Kampung Pondokmiri, Bogor, pada Sabtu, 2 Februari 2014. Namun, santri penghafal Qur’an itu juga gembira. Pasalnya, selain guru, juri, dan kawan-kawan santri, kedua orangtuanya juga ikut menyaksikan ujian Nasya.

Berhimpunnya Udin-dan Suhartini, meski tak lama, memang sudah lama jadi impian remaja putri tersebut. ‘’Bapak dan Ibu saya sudah bercerai,’’ ungkap Nasya lirih. Setelah orangtuanya berpisah, ia tinggal bersama bibinya.

Apapun yang terjadi, gadis remaja itu ingin meraih mimpinya; Menjadi dokter sekaligus hafidzhoh (penghafal 30 juz Al Qur’an).

Tes komprehensif Kwartal III Rumah Tahfidz Al Azmy, diikuti 20 santri. Satu persatu dari mereka melafalkan hafalannya, yang dinilai dua orang juri tahsin. Juri pertama dari Majelis Hufadz wal Qurra Daarul Qur’an, sedang satunya dari Al Azmy. Setiap santri dinilai oleh juri yang berbeda.

‘’Penilaian meliputi aspek-aspek tartil (tertib) tilawah seperti makhraj dan tajwid,’’ tutur Ustadz Muslihan Bashri, pembimbing Rumah Tahfidz Al Azmy.

Ustadz Muslihan Al Hafidz, mahasiswa Perguruan Tinggi Ilmu Qur’an (PTIQ) Jakarta Selatan, menerangkan pentingnya tahsin atau perbaikan bacaan dalam Program Tahfidz Qur’an.


Membaca Al Qur’an secara tartil adalah kewajiban. Sesuai firman Allah SWT: ‘’Dan bacalah Al Qur’an dengan tartil’’ (QS Al Muzammil 73:4).

Mengutip para ulama, membaca Al Qur’an tanpa tajwid sebagai suatu lahn (kesalahan). Imam Jalaluddin as-Suyuthi menjelaskan, ada 2 jenis lahn yaitu lahn jaly atau kesalahan yang nyata pada suatu lafadz, yang berpotensi mengubah makna secara diametral. Misalnya lafadz qalbu (hati atau pemikiran) dengan kalbu yang artinya anjing.

Kesalahan berikutnya disebut lahn khafy, yaitu kesalahan yang tersembunyi pada lafadz. Ini hanya diketahui oleh ahli Qiroat.

Ustadz Muslihan menambahkan, sejumlah kesalahan lain dalam tilawah Qur’an adalah pengucapan huruf yang tidak sesuai dengan makhraj-nya; Inkonsisten panjang-pendek bacaan; Ketidakseimbangan dalam membaca dengung (ghunnah), dan memantulkan huruf sukun selain qolqolah.

Melalui Kwartalan yang diselenggarakan secara reguler, dimaksudkan agar para santri Rumah Tahfidz Al Azmy memiliki kualifikasi standar yang ditetapkan PPPA Daarul Qur’an sebagai pembina rumah tahfidz.



Berita terakhir lainnya pada periode ini ..