Arsip Berita | September 2016
Mimpinya Mencetak Generasi Hafidz Qur'an

  01 September 2016    1,629

Hafidz. Gelar ini bukanlah gelar yang bisa diperoleh dengan mudah. Bukan hanya kemampuan, untuk mendapatkan gelar ini kita butuh komitmen yang harus dijaga seumur hidup. Berbagai macam cara dan metode ditempuh demi meraih gelar ini. Butuh waktu satu, dua, tiga, bahkan ada yang butuh waktu bertahun-tahun demi mendapat gelar ini.

Sebagian merasa mudah, sebagian yang lain merasa sulit. Setelah perjuangan menjadi seseorang yang bergelar hafidz, lantas apa yang akan dilakukan?

Kota Gajah kota santri. Atau Kota Gajah Kota Hafidz. Bukan, Lampung Provinsi Hafidz, atau bahkan Indonesia negara hafidz. Barang kali itulah hasil akhir yang akan di capainya. Terdengar sederhana namun sangat mulia. Wallahu ‘alam bishawab.

Mungkin mimpinya tidak sebesar ustad Yusuf Mansur yang mendirikan pesantren tahfidz diseluruh dunia. Tapi lihatlah usaha dan ikhtiarnya. Khairudin hanya ingin gelar hafidz tidak berhenti di satu orang. Seperti dirinya yang berusaha menciptakan generasi penerus hafidz, beliau berharap, setiap santrinya akan menghasilkan hafidz-hafidz yang lain.

Lulus nyantri di sebuah pondok pesantren tahfidz Cilacap pada 2005 silam, kemudian pulang ke kampung halamannya di lampung. Bukan hanya sekedar pulang, ia pulang membawa ilmu yang ingin ia bagikan kepada anak-anak sekitaran rumahnya.

Selain membawa ilmu mulia, pria kelahiran 82 itu juga membawa seorang wanita cantik yang senantiasa menemaninya berjuang mendirikan rumah tahfidz di kampung halamannya. Berawal dari sepetak tanah dengan dinding “geribik” dan lima orang santri yang ingin belajar ilmu Alqur’an darinya, kini rumah tahfidz yang dikelolanya memilki beberapa cabang di berabagi daerah.

Sendiri, itulah yang dirasakannya pada awal-awal jihadnya. Setelah berhasil meluluskan kelima santri perdananya menjadi hafidz, Khairudin mengirim ke lima santrinya tersebut ke Cilacap, tempat dimana ia menimba ilmunya dulu.

Setelah mengirim santrinya ke Cilacap, ia memutuskan untuk berhenti mengajar Alqur’an sejenak dan pergi ke Palembang untuk mengurus kebunnya. Setahun berdiam di palembang, panggilan dari rumahnya terus berdatangan. Panggilan dari orang-orang yang haus akan ilmu Alqur’an kerap berdatangan dan terus mengetuk pintu hatinya hingga ia memutuskan untuk pulang kembali membimbing anak-anak mengkaji ayat-ayat suci.

“loh, ternyata ada acara seperti ini ya,” gumamnya kaget kala melihat acara Wisuda Akbar 4 di televisi.

“saya kira saya itu sendiri, ternyata ada Daarul Qur’an yang juga mengembangkan hafidz-hafidz Qur’an,” akunya saat diwawancara melalui media komunikasi elektronik.

Setelah melihat acara yang di usung PPPA Daarul Qur’an binaan ustadz Yusuf Mansur, ia pun semakin bersemangat untuk memotifasi santri-santrinya agar beristiqomah menghafal. Ia mengatakan, keistiqomahan anak-anak untuk datang mengaji lah yang paling diutamakan.

“saya tidak memaksakan anak-anak untuk menghafal, minimal istiqomah datang mengaji saja,” akunya.

Rumah Tahfidz Alqur’anyy kini tak lagi berbilikkan bambu. Bersama kelima santri perdananya, ia mengembangkan rumah-rumah tahfidz diberbagai daerah. Dengan total kesuluruhan santri hampir ratusan orang. Bukan hanya itu, bahkan rumah tahfidz Alqur’anyy mengirimkan penguji di acara Wisuda Akbar 5. Selain mengirimkan penguji, ia juga telah beberapa kali mengirimkan santrinya ke acara Wisuda Tahfidz Nasional.

“saya hanya berharap, para hafidz tidak hanya berdiam diri dirumah saja atau tenggelam, tetapi juga mau memberikan ilmunya dan mencetak hafidz-hafidz lainnya,” ungkapnya.

Photo lainnya dalam Berita ini ..




Berita terakhir lainnya pada periode ini ..