Arsip Berita | September 2016
Dari Kampung Narkoba, Jadi Kampung Santri

  09 September 2016    1,489

Mengelus dada, mungkin ungkapan yang dapat menggambarkan pergaulan pemuda saat ini. Bahkan, siapa pun dibuat bergidik kala mendengarnya. Kekhawatiran selalu saja mendominasi dipikiran orang tua, dibandingkan harapan.

Para pejabat pemerintahan pun terlalu sibuk saling tuding penyebab berbagai krisis. Tanpa memperhatikan, generasi penerus yang tengah berjalan tanpa arah, terombang-ambing oleh rayuan semata.

Meskipun begitu, ada gerakan kecil yang tengah berupaya memberikan harapan pada bangsa ini. Mereka tak terlihat oleh berbagai kepentingan, tak terdengar pula oleh riuh ibu kota. Tapi, mereka nyata dan tersebar di berbagai daerah Indonesia. Membawa panji-panji Allah dalam hati, tangan dan kakinya.

Muhammad Ilham, ia salah satunya. Bersama sang kakak, pria berusia 28 tahun ini berupaya melahirkan generasi qur'ani untuk bangsa ini, di tanah Tarakan, Kalimantan Utara. Ia berharap hadirnya generasi penerus yang memiliki pribadi berakhlakul karimah dengan semangat Qur'an dalam jiwa mereka.

Ia menceritakan, langkah ini sudah diniatkannya sejak lulus di pondok dan semakin kuat usai menyengam pendidikan di Universitas Islam Negeri Makasar. Membuatnya yakin untuk membuat perubahan di sebuah desa yang dikenal Kampung Narkoba sembilan tahun silam, yang berlokasi di daerah Selumit Pantai, Tarakan.

"Saya dan kakak masih mengingat jelas, saat itu sering kali kami melihat anak-anak SD tengah 'ngelem' di pinggir jalan. Para ibu pun banyak yang tidak menutup aurat, miris rasanya," ungkap Ilham.

Bismillah, langkah pertama yang dilakukan dua bersaudara ini adalah mengadakan pengajian ibu-ibu dan TPA untuk anak-anak. Hingga membentuk Rumah Tahfidz Adz-Dzikri. Namun, inilah dakwah tidak semudahkan yang diharapkan, banyak penolakan yang terjadi oleh warga setempat.

Apalagi, usai mengetahui sistem yang kami berlakukan. Yaitu, dilanjutkannya belajar di Pondok Pesantren Daarul Qur'an. Tak sedikit, orang tua yang enggan, bahkan tidak menyetujuinya. "Tak sedikit orang tua santri yang keberatan mengirim putra-putrinya ke pesantren."

Alhamdulillah, harapan itu perlahan mulai hadir. Tak sedikit orang tua yang mempercayakan putra-putrinya untuk belajar Alqur'an. Saat ini, sedikitnya ada 250 santri dari RT Adz-Zikra yang tengah belajar dan menghafalkan Alqur'an di Pondok Pesantren Tahfiz Daarul Qur'an.

Sehingga, seringkali ia memberikan motivasi kepada orang tua mereka untuk terus mendukung putra-putrinya. "Tenang ibu, orang kafir saja Allah bantu. Masa kita yang mau ibadah tidak dibantu Allah Ta'ala," terangnya.

Ia berharap, 10 tahun kedepan akan lebih banyak rumah tahfidz yang hadir di setiap kabupaten di Indonesia. Tak hanya itu, makin banyaknya Pondok Pesantren untuk orang tua yang ingin kembali ke jalan ilahi.

"Saya ingin melihat, anak-anak, santri-santri kita yang akan menjadi pemimpin bangsa ini," tutupnya.

Photo lainnya dalam Berita ini ..




Berita terakhir lainnya pada periode ini ..