Arsip Berita | September 2016
Untuk Impian Kami

  14 September 2016    1,137

Tahun 2013 lalu, siapa yang tidak mengetahui perhelatan Wisuda Akbar 4 yang terselenggara di Gelora Bung Karno. Salah satu perhelatan besar yang terlaksana di Indonesia kala itu. Ribuan orang dari seluruh Indonesia berkumpul menjadi satu, memberikan penghargaan bagi para penghafal Alqur'an.

Bersama-sama memberikan motivasi kepada yang lainnya untuk menghafalkan Alqur'an. Subhanallah, salah satu dari mereka adalah Rizaldi, seorang pria asal Bandung yang termotivasi mendirikan rumah tahfidz.

Usai melihat semangat santri yang hadir saat itu, menguatkan langkah pria kelahiran 1984 ini bersambang ke Pondok Pesantren Tahfidz Daarul Qur'an. Di sana, ia bertemu dengan Pimpinanan Pondok Pesantren, ust Ahmad Jameel. Ia banyak bertanya tentang rumah tahfidz. Membuatnya, semakin yakin untuk mendirikan rumah tahfid di tempatnya berdiam.

Sebelumnya, Rizaldi sempat mengabdi di Pondok Pesantren Al-Ihsan yang berlokasi di Bandung, selama 11 tahun lamanya. Pengabdiannya untuk umat itu, sudah ia lakukan sejak lulus dari Pondok Pesantren Gontor.

Kini, ia berserta, istri dan putra-putrinya berdiam di Ciwidey. Menjalani kesehariannya bersama 250 santri yang belajar dan menghafal Alqur'an di sana.

Ia menceritakan, sebelum mendirikan rumah tahfidz, ia sempat merasa bingung apa yang harus dilakukan, saat awal-awal berdiam di Ciwidey. Hingga, suatu ketika ia melihat tayangan televisi saat shubuh yaitu Wisata Hati Ustadz Yusuf Mansur. Dan, membawanya untuk turut hadir dalam Wisuda Akbar 4, 2013 lalu.

Saat berkunjung ke Pondok Pesantren Tahfidz Daarul Qur'an dan bertemu dengan Ust Jameel yang merupakan seniornya semasa di Gontor. Ust Jameel berkata," kata ustad kan, berawal dari ruang tamu dulu," ujar Ustad Jameel, menirukan ustad YM pada salah satu tausiyahnya.

Alhamdulillah, sejak saat itu sampai sekarang, Rumah Tahfidz Mafiro telah berdiri dan terus berupaya melahirkan para penghafal Alqur'an di tanah Priangan Barat ini. Motivasi pun tak lelah ia sampaikan kepada para santrinya.

"Ajak teman-teman lainnya untuk mengaji. Karena, segala hal kebaikan yang kita seru dan dilaksanakan akan diberikan pahala. InsyaAllah, yang diajak pun akan mendapatkan pahala tanpa mengurangi amal baik yang diajak menyeru kebaikan," terangnya.

Ia berharap, kedepannya Ciwidey tak hanya terkenal dengan daerah wisata semata. Tapi, mejadi daerah wisata islami yang dapat memberikan motivasi kepada orang lain, dan melahirkan generasi Qur'ani.

Berkah dan kemuliaan para penghafal Alqur'an pun ia rasakan. Salah satunya, terjadi satu tahun lalu. Ada rombongan turis dari Malaysia yang berkunjung ke rumah tahfidznya, sebagai salah satu tujuan lokasi mereka. "Subhanallah, kami mendapatkan bantuan untuk merenovasi rumah tahfidz pasca kebakaran saat itu," ujarnya.

Mengingat, rumah tahfidz miliknya sempat dilahap si jago merah, usai sepekan mengadakan acara Ciwidey Menghafal. Sekiranya, ada 2500 orang yang menghadiri agenda tersebut.

Ia teringat, saat rumah tahfidz tak bisa dipakai oleh santri. "Para warga disekitar mempersilahkan ruang tamu mereka sebagai tempat belajar santri, dan itu pun begiliran. Subhanallah...," tutupnya.

 



Berita terakhir lainnya pada periode ini ..