Arsip Berita | Januari 2017
Bukan Sekedar Mengajar (Part 2)

  03 Januari 2017    1,575

“Pernah, saat adzan Dzuhur berkumandang, saya mengajak anak-anak di warnet untuk shalat berjamaah. Tapi, yang ada mereka kabur dan besoknya tak datang lagi. Padahal, saya juga menawarkan gratis 1 jam, bagi yang mau ikut sholat di masjid,” jelas..

suami Midah Hamidah (37) ini dengan resah.

Tak hanya itu, miris rasanya mendengar bahasa komunikasi yang digunakan anak-anak. Ada pula, remaja-remaja yang bermain game hingga malam. Akhirnya, ia memutuskan untuk memfilter konsumennya, tentu saja berakibat pada pendapatnnya.

justify;">“Nah, inilah mulanya anak-anak mulai belajar mengaji. Saat itu, ada beberapa anak yang tengah asik bermain game. Tiba-tiba saja, saya menawarkan mereka untuk belajar mangaji Alqur’an. Starteginya, siapa saja yang mau belajar mengaji bisa main game gratis 1 jam setiap..

hari,” teranya.

Tanpa diduganya, anak-anak itu pun bersorak dan ingin belajar mengaji. Meskipun, sebelumnya mereka mengatkan, ingin belajar tetapi belum bisa baca Alqur’an. Alhamdulillah, berawal dari tiga anak menjadi lima dan bertambah terus hingga 25 anak. Bahkan, mereka..
seakan lupa dengan promosi yang di tawarkan Anwar.

Sedikitnya pengunjung, dan terbatasnya ruang untuk anak-anak mengaji. Ia memutuskan untuk menutup warnet dan membongkarnya. Bahkan, seiring berjalannya waktu, santri yang mengaji semakin banyak.

Tak jarang ia harus menggelar tikar..

di depan rumahnya, karena sudah tidak ada ruang lagi. Jika hujan datang, anak-anak terpaksa berdesak-desakkan di rumah.

“Meskipun begitu, Alhamdulillah kegiatan mengaji terus belajar dan anak-anak pun semakin antusias. Yang tadinya belum bisa baca Alqur’an jadi bisa, yang..
awalnya belum benar bacaannya jadi benar, dan yang mulanya belum menghafal Alqur’an jadi menghafal,” terangnya semuringah.

Alhamdulillah, keberkahan Alqur’an terus menghampirinya. Ia mendapatkan tempat yang lebih luas untuk para santrinya 2014 lalu. Saat ia ingin memulai program mondok..
yang bertepatan dengan Ramadan.

Sang pemilik pun memberikan kemudahaan yang tak diduganya. Ia diperbolehkan memakai tempat itu secara percuma dan sampai kapan pun, selama ada kegiatan santri di dalamnya.

Ia berkata,“Subhanallah, saya benar-benar tak mengira, ada orang sebaik..

beliau. Tak terhitung, kemudahaan yang Allah berikan untuk kegiatan ini. Hadiah seakan datang bertubi-tubi tiada henti.”

Alhamdulillah, hal ini mendorong ia untuk membuka Rumah Tahfizh. Tak menyangkal, banyak hambatan yang hadir, khususnya dari lingkungan sekitar. Ia pun sempat tak..

ditegur selama berbulan-bulan oleh beberapa orang di lingkungannya. Meskipun begitu, menyerah untuk Alqur’an tak ada di kamusnya.

Geser halaman untuk melihat halaman lainnya..



Berita terakhir lainnya pada periode ini ..