Arsip Berita | Januari 2017
Denyut Kehidupan Mata Air Rukem

  04 Januari 2017    2,639

 

Rimbun bambu, jalan menanjak, padukuhan, bambu lagi, belokan, bambu lagi… dan lagi. Pemandangan asri sepanjang 2 KM menghampar sepanjang jalan memasuki salah satu dusun di Purworejo: Rukem. Kawasan satu dua padukuhan tak lama lebih mulai terlihat...

Mobil bersama rombongan PPPA Daarul Qur’an Yogyakarta berhenti di depan rumah seorang warga untuk parkir.

Pintu mobil dibuka, segera udara lepas hujan yang awet sepagian ini mengendap segar. Memanjakan pernafasan yang sejak tadi tertahan lantaran medan yang cukup sulit...

Maklum, ini pertama kali para peserta program BTQ for Leaders menapakkan kaki di tanah Rukem ini, tanah asri yang masih kental dengan suasana pedesaan.

Jabat tangan dan pelukan akrab menyambut kedatangan kami sesampainya di pelataran mushola Miftahul Huda yang..

ramai oleh warga. Rupa-rupanya, bukan hanya alamnya saja, kultur warga pun memberi suasana hangat: ramah dan sederhana. Beberapa warga dan aktivis PPPA Daarul Qur’an Yogyakarta bergotong-royong menyelesaikan bangunan perpustakaan sekaligus merapikan mushola sederhana milik dukuh yang nanti akan diresmikan.

justify;">Memang tidak lebar, tetapi wujudnya mampu menarik senyum selepas longsor Ramadhan lalu, baik tua maupun muda. Tampaknya, di sini tak ada kami maupun mereka, namun “kita” (rasa bersama) lebih mewarnai setiap aktivitas dukuh.

Selepas sholat Jumat, warga Rukem berduyun-duyun..

berdatangan, anak-anak, remaja, dewasa, tua, muda, laki, perempuan, semuanya lengkap dengan busana muslim. Tim PPPA Daarul Qur’an Yogyakarta, peserta program BTQ for Leaders, dan perwakilan BNI Syariah segera merapat, setelah sebelumnya sibuk menata buku-buku sebanyak lebih dari 300-an judul dan..
menyiapkan acara “Rilis Taman Baca Hasanah” .

Wajah-wajah berseri duduk berjajar di atas terpal, terpisah laki dan perempuan oleh sekat. Sesekali mereka melirik dua buah lemari buku dengan dua buah pintu di kanan kiri musholla. Bukan lemari yang..
membuat mereka tak sabar, melainkan buku-buku bacaan di dalamnya yang dinanti untuk dibaca.

Dalam benak, sudah terbayang bagaimana pikiran mereka nanti dapat melalang. “Wes, nanti tak bacane semua,” seloroh Pak Kaum Sudiyo dalam riuh persiapan acara tadi.

Para..

ibu dan bapak yang sudah tergerogoti usia membumbungkan harapan baru yang dulu sempat terkubur longsor. Yakni anak-anak kelak akan menjadi pemimpi yang di-ijabahi Allah, meraih cita dan asa. Elusan lembut para emak di kepala anak-anaknya menyiratkan mimpi tertinggi berbahasa ibu...
Siratannya kemudian disuratkan dan dipompa oleh seruan semangat Lillahi Ta’ala dari pengisi acara, General Manager Pendayagunaan PPPA Daarul Qur’an, Jay Jahidin, yang diaminkan seluruh warga.

Waktu Ashar tiba selepas acara, anak-anak pun berhamburan dan berlarian mengambil wudhu. Mereka begitu..

semangat dan antusias akan menyambut acara MOQU (Mobile Qur’an) seusai sholat nanti, tentunya dengan cerita dramatis tentang nabi-nabi.

Ditambah, tempat wudhu baru yang digunakan untuk bersuci selepas longsor berdiri gagah di samping musholla, menambah simpatik anak-anak. Airnya pun bersumber..

dari tangan-tangan orang tua mereka sendiri. Air yang bersumber dari lereng bukit di atas kampung mereka.

Terbayang bagaimana bakti massal itu?
Demi air bersih, para penduduk Rukem rela wara-wiri memikul pasir belasan kali. Tak hanya sehari, namun berhari-hari. Pun,..

medannya tidak hanya jalanan lurus atau berkelok. Kaki-kaki para ibu dan bapak dengan beban di pundak, berhasil merambati jalan setapak menaiki bukit, tanjakan, licin dan sempit, tebing juga bebatuan tajam. Mereka membuat dinding-dinding penahan air dan menyambung pipa-pipa sepanjang 2..
KM, hingga tempat-tempat penduduk dan mushola Miftahul Huda.

Pantaslah bila “perempuan perkasa” tersemat dalam diri para ibu Kampung Rukem. Tak hanya sibuk di dapur menyiapkan makanan untuk bapak-bapak yang kerja bakti seperti dikebanyakan tempat. Mereka turut turun dalam pembangunan..

di bukit itu.

Mereka bekerja keras hingga sepanjang jalan menuju Kampung Rukem tidak terlihat jelas bekas-bekas longsor. Tak ada kayu-kayu bergelimpang silang menyilang, tak ada rumah roboh, tak ada kesedihan. Mereka begitu tabah, berhasil mengubah musibah menjadi berkah.

justify;">Jika mau saja dikalkulasi, setiap deret huruf Hijaiyah dalam setiap bacaan Iqra’, dan Al-Quran anak-anak Rukem setara dengan selangkah perjuangan para ibu. Bulir keringat para bapak, hela nafas para donatur, penduduk, dan para kemuliaan syuhada korban longsor.

Ah, betapa..

sangat mulia kehadiran Al-Qur’an di Kampung Rukem. Para warga harus kehilangan nyawa, keluarga, dan harta benda mereka demi peradaban baru ini yakni peradaban Qurani. Peristiwa ini bukanlah kehendak para warga. Namun, inilah jalan Allah untuk mengangkat derajat para warga, memuliakan..
kedudukan mereka, dan yang paling hebat adalah tabahnya para warga menghadapinya. Subhanallah .

Oleh: Isna Nur Fajria, Mahasiswa, UGM (Peserta Program BTQ for Leaders PPPA Daarul Qur’an)

 

Geser halaman untuk melihat halaman lainnya..

Photo lainnya dalam Berita ini ..




Berita terakhir lainnya pada periode ini ..