Arsip Berita | April 2017
Membumikan Alqur'an Lewat Rumah Tahfizh

  26 April 2017    699

Sejarah Rumah Tahfizh tak bisa dilepaskan dari kiprah dakwah Ustad Yusuf Mansur yang fokus mengajak umat Islam lebih mencintai Alqur'an. Alhamdulillah, kini sudah ada 806 rumah tahfizh dengan 19 ribu santri yang tersebar di seluruh kota maupun pelosok Indonesia dan dunia.

Rumah Tahfizh sendiri mulai bermunculan sejak 2009 lalu, setelah Ustadz Yusuf Mansur menggulirkan wacana membuat wadah masyarakat belajar dan menghafal Alqur'an. Kemudian, PPPA Daarul Qur'an membentuk Rumah Tahfizh Center (RTC) pada 2016 agar kegiatan Rumah Tahfidzh dapat berjalan dengan baik dan tersistem.

"Harapannya, Rumah Tahfidz menjadi penggerak di semua lini kehidupan, baik itu di pemerintahan atau di mana pun. Karena kebayang kan kalau seandainya yang memimpin itu Ahlul Qur'an. Bukan hanya hafal Qur'an tapi di hatinya juga ada Qur'an. Sehingga InsyaAllah semua urusan dunia ini beres," ujar Pengasuh RTC, UstadSolehudin.

Menjalarnya Rumah Tahfizh di berbagai daerah juga tak bisa dilepaskan dari perjuangan para koordinator daerah (korda) Rumah Tahfizh yang punya semangat besar menyebarkan dakwah Qur'an. Kini sudah ada 18 korda yang tersebar di berbagai daerah mulai dari Pulau Jawa, Sumatera dan Kalimantan.

Ustad Soleh menuturkan, loyalitas para korda kepada PPPA Daarul Qur'an tak bisa diragukan lagi. Sebab, mereka mau mendedikasikan diri untuk mendirikan Rumah Tahfizh di daerahnya. Menurut para korda, mengajak orang lain kembali kepada Alqur'an merupakan pergerakan dakwah.

"Ada sebuah semangat. Karena PPPA Daarul Qur'an hanya mengajak, tapi semangat para korda luar biasa. Mereka ini para pejuang, RTC hanya sebagai lahan perjuangan. Karena mereka sendiri bukan orang-orang yang digaji dan terikat secara karyawan," ucapnya.

Koorda Kalimantan Utara (Kaltara) M Ilham menceritakan saat timnya ditunjuk RTC membentuk Rumah Tahfizh. Kaltara yang merupakan daerah kepulauan membuat Ilham beserta timnya harus mengeluarkan tenaga ekstra menyebrangi pulau-pulau untuk bisa sampai ke sejumlah Rumah Tahfizh. Buat Ilham, ini adalah jihad demi membumikan Alqur'an di daerahnya.

"Di Kaltara tepatnya di Pulau Tarakan itu berbeda dengan daerah lainnya. Karena harus naik kapal boat. Jadi perlu dengan perjuangan melewati ombak, lautan dengan kapal kecil. Pun dengan sungai-sungai di dekat laut. Kadang ya kalau dapat apesnya, bisa ketemu sama buaya," tutur Ilham.

Di Kaltara sendiri, sudah ada lima Rumah Tahfizh. Namun, ada satu Rumah Tahfizh kebanggan Ilham. Rumah Tahfizh Az-Zikri yang berdiri di tengah Kampung Narkoba. Ya, warga di kampung itu banyak yang menggunakan obat-obatan terlarang. Alhamdulillah, kini sudah ada 70 santri yang tengah menghafal Qur'an meskipun orang tuanya masih jadi pemakai.

"Tapi Rumah Tahfizh Az Zikri ini banyak mengirimkan santri-santri ke Pesantren Tahfizh Daarul Qur'an di setiap cabang. Ada santri yang ke Cikarang, Semarang dan Lampung. Kami punya niat merubah pandangan Kampung Narkoba menjadi Kampung Qur'an," ujarnya.

Rumah Tahfizh merupakan salah satu upaya PPPA Daarul Qur'an membumikan Alqur'an di kota hingga pelosok Indonesia bahkan dunia. Kini Rumah Tahfizh sudah tersebar di 122 Kabupaten, 26 Provinsi. Sementara di belahan dunia lain, Rumah Tahfizh sudah berada di Palestina, Afrika Selatan, Hongkong dan Jepang. Target di 2017 ini, Rumah Tahfizh tersebar di seluruh kota dan kabupaten.

"Jadi kalau ada kota ataupun kabupaten yang belum ada Rumah Tahfizhnya, maka tugas kita adalah mendirikannya," kata Direktur Utama PPPA Daarul Qur'an, Ustad Anwar Sani.



Berita terakhir lainnya pada periode ini ..