Arsip Berita | Mei 2017
Dakwah di Lorong-lorong Kaum Minoritas

  15 Mei 2017    1,232

Gang-gang sempit, jalan-jalan tikus, bebatuan pegunungan dan lorong-lorong kaum minoritas merupakan tempat-tempat yang ditelusuri Mobile Qur'an (MoQu) untuk menyelipkan nilai-nilai Alqur'an kepada masyarakat. Kali ini MoQu menggelar aksinya di Jalan Jagalan, Semarang, Jawa Tengah.

Kawasan ini menjadi tantangan luar biasa tim MoQu PPPA Daarul Qur'an Semarang lantaran letaknya yang berada di antara lorong-lorong klenteng dan gereja. Sepanjang jalan hanya ada bangunan-bangunan bercat merah dan gereja. Islam di sejumlah daerah di Semarang memang minoritas.

Salah satunya di Jalan Jagalan ini, hanya ada satu mushola ukuran sepetak untuk menapung dua RW salat berjamaah. Di bawahnya, ada bengkel motor kecil-kecilan yang setiap sore disulap jadi tempat anak-anak mengaji.

"Ini saja masih berkendala karena tempat yang kami pakai tanah warisan. Kalau nanti dijual dan yang beli klenteng atau gereja, sudah pasti tidak lagi jadi tempat salat dan mengaji," ujar Sulaiman (50) salah satu tokoh masyarakat yang ingin menyiarkan Islam di pinggiran Semarang.

Ia mengatakan, anak-anak di kawasan ini sudah terbiasa melihat judi dan minum-minuman keras. Bahkan mereka yang usianya baru beranjak 9 tahun, sudah berani melakukan kekerasan kepada sesama teman lantaran lingkungan yang mengajarkannya.

"Memilukan sekali kondisi di daerah ini. Untuk melihat anak-anak yang kulitnya bersih saja sulit sekali karena rata-rata mereka menggunakan tato," tutur Sulaiman.

Saat bulan ramadhan tiba, kebanyakan dari klenteng dan gereja menggelar buka puasa dan sahur bersama. "Tapi waktu buka puasa ada tausiyah yang belum selesai sampai adzan maghrib tiba, melenakan para jemaah yang datang sehingga sebagian dari mereka tak salat maghrib," ucap Sulaiman.

Sulaiman melanjutkan, klenteng dan gereja di wilayah ini selalu melakukan segala cara untuk mengajak kaum muslim minoritas di Semarang berpindah keyakinan. Biasanya memang di lorong-lorong dan jalan tikus yang masyarakatnya masih kekurangan ekonomi.

"Kalau ada warga yang sakit mereka biayai sampai sembuh, sekolah juga sampai lulus, tapi ya ujung-ujungnya diajak ikut keyakinan mereka," ujarnya.

Sulaiman sendiri sudah mendirikan sejumlah Taman Pendidikan Qur'an (TPQ) di kawasan yang berada di tengah-tengah klenteng maupun gereja. Sudah ada 700 santri yang ia bina dan 100 dari mereka merupakan anak yatim.

Bekerja sama dengan PPPA Daarul Qur'an Semarang, Sulaiman berharap syiar dakwah Qur'an terus berlanjut di lorong-lorong, jalan-jalan tikus kaum minoritas di Semarang yang belum tersentuh.

Keinginan Sulaiman disambut baik tim MoQu PPPA Daarul Qur'an Semarang yang juga punya cita-cita menanamkan nilai-nilai Qur'an kepada masyarakat khususnya anak-anak. Terlebih mereka yang tinggal di daerah-daerah pinggiran dan menjadi kaum minoritas di antara mayoritas.

"MoQu akan terus berjelajah ke daerah-daerah yang memang membutuhkan kajian-kajian Islam khususnya Qur'an. Semoga Allah selalu melancarkan dan memudahkan ikhtiar ini," tutur Penanggung Jawab Program PPPA Daarul Qur'an Semarang, Zaenul Komar.



Berita terakhir lainnya pada periode ini ..