Testimoni Sedekah

Rd. Rara Eulis Hendraswati - Sedekah Bagai Perisai Pelindung

  4,162


Masalah memang milik semua orang, semua kalangan. Tidak pandang bulu, pejabat, pengusaha, karyawan sampai pengangguran pun tak dapat mengelak dari hal yang bernama cobaan. Cobaan yang berupa kesengsaraan, kemiskinan, keterpurukan, hingga cobaan berupa kenikmatan.

Sebagaimana telah Allah peringatkan didalam firman-Nya, yang artinya, “Kamu benar-benar akan diuji pada hartamu dan dirimu”. QS ‘Ali Imran[3] : 186

Sebuah album biru dibuka kembali oleh seorang PNS bernama lengkap Rd. Rara Eulis Hendraswati. Hal yang mengingatkannya pada peristiwa yang sangat memilukan dalam perjalanan hidupnya. Sesuatu yang tak akan pernah hilang dari sanubarinya. Tak perlu diingat pun, tragedi itu terus terngiang dalam ingatannya.

Ingatan yang membuatnya kembali ke masa empat tahun lalu. Saat Ibu Rara berada dititik yang tersulit. Permasalahan di keluarganya kala itu bagai kapal bocor yang mengarungi samudera. Jalan, tenggelam, berhenti pun tak memperbaiki keadaan. Hutang demi hutang dilakoni tanpa berkesudahan.

“ Sebanyak 3/4 gaji saya habis untuk membayar cicilan hutang suami yang luar biasa besar. Saya tak pernah tahu penggunaan dana hutang tersebut untuk apa. Beliau tertutup sekali. Yang saya tahu ada debt collector datang ke rumah, dengan wajah tak ramah dan pistol mengancam kepala,” tuturnya.

Pada saat yang sama, Ibu dua anak ini masih menyusui si bungsu yang masih berumur 8 bulan. Sang suami datang kepadanya dengan memohon, bahkan menangis memintanya untuk melunasi hutang agar tidak diseret ke penjara.

Akhirnya, ia datang ke bank untuk meminjam dana sebesar nominal hutang. “Saya harus mencicilnya selama 3 tahun, dengan mengambil 3/4 gaji bulanan saya,” jelas perempuan kelahiran Sleman ini. Sesuai kesepakatan, suami harus menggantikan sebesar nilai tersebut, setiap bulan.

Diluar dugaan, bulan-bulan berikutnya dilalui dengan lebih panas. Karena sang suami tidak memenuhi kewajibannya untuk mencicilan hutang bank dan memberi nafkah bagi keluarga. Ibu Rara berkata, “Seperti ikan di dalam gelas kecil, megap-megap kehabisan oksigen.”

Saat hati panas, pikiran kehilangan akal sehat, jalan pintas pun ditempuh. “Tiba-tiba rumah kami sering kedatangan batu akik, pusaka-pusaka mini, dan benda-benda aneh lain. Bahkan, saya sempat temukan semacam taring hewan buas, di mobil tua kami,” ujar PNS tersebut.

Takut akan dampak buruk kepada anak-anaknya. Dengan marah besar, ia meminta suaminya untuk menyingkirkan semua keanehan itu.

Sudah jatuh tertipa tangga pula. Tepat sebelum tiba saatnya membayar pajak mobil, wanita yang berdomisili di Serang ini baru menyadari bahwa BPKB mobilnya tak pada tempat semestinya.

Setelah didesak, akhirnya BPKB pulang paksa dengan buntut surat talak. Rupanya, BPKB ini sudah menginap dua tahun di leasing tanpa seizinnya. Surat sakti itulah yang memaksanya membuka kembali Alqur’an.

Tepat pada tahun 2013, pada saat bazar buku di sekolah anak sulungnya. Ia mulai mengenal Ustadz Yusuf Mansur lewat buku-bukunya. Semenjak saat itu, ia mulai memperbaiki sholat fardhu, qabliyah-ba'diyah, tahajud, dhuha, puasa sunah senin kamis, dan yang digas pol adalah sedekah.

Hasilnya? Sesuai harapankah? Niat baiknya untuk memperbaiki rumah tangganya malah direspon buruk oleh sang suami. Ia dan suami pun telah resmi bercerai. Sampai mobil satu-satunya juga ia jual untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga.

“Kak, yuk kita ke pesantren Daarul Qur’an, mama mau ngaji iqra. Kakak sama adik nunggu mama sambil main ya,” ajaknya kepada sang anak.

Alhamdulillah, itu adalah Allah yang sedang mengetuk pintu hatinya. Terhitung setelah kejadian itu, ibadahnya bertambah kenceng.

Hasilnya pun kehidupannya mulai terangkat kembali. Ia seorang diri dapat memenuhi kebutuhannya dan keluarga, mobilnya yang telah terjual diganti oleh Allah kembali.

Step by step petunjuk Allah mulai bersinar. Saya diberi kemudahan memperoleh mobil pengganti walau bukan baru, saking mudahnya seperti diantar ke rumah,” jelasnya dengan mata yang berkaca-kaca.

Doanya disetiap selesai sholat adalah meminta pengganti imam sholat dan kemudahan rizki kepada Allah ta’ala. Alhamdulillah, ternyata sudah terjawab. Anak pertamanya telah mampu menjadi imam sholat berjamaah untuknya dan si bungsu, dengan bacaan yang benar.

Barulah kini ia sadar bahwa tagline "Jalani yang Wajib Hidupkan yang Sunnah" benar-benar menjadi penolong hidup. “Sungguh, Allah melindungi kami, seperti dibuatkan perisai hidup,” jelasnya semangat.

Beberapa waktu lalu saat rapat dinas dipimpim Sekretaris Daerah. Ia tak sengaja mendengar bahwa nama mantan suami dan kantornya masuk daftar panggilan tipikor Polda. Karena, menggunakan uang negara tanpa bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya.

Disitulah rasa syukurnya bertambah. “Allah memiliki cara unik untuk menyelamatkan umatnya. Semakin dalam cinta kami kepada Allah,” ucapnya.




Testimoni lainnya ..



Arsip Testimoni