Testimoni Sedekah

Shinta Tantri Amanda - Pesantrennya Sang Medis

  4,546


Berpakaian putih bersih dan berkalung stetoskop adalah keseharian dari seorang wanita bernama Shinta Tantri Amanda. Bergelut dengan penyakit pun sudah terbiasa baginya. Ketepatan dalam mengidentifikasi penyakit dan memberikan rujukan obat yang tepat adalah tanggung jawab yang tidak pernah lepas darinya.

Seorang dokter lulusan Universitas Muhammadiyah Jakarta ini memang telah mendapat apa yang menjadi impiannya. Gejolak dalam sanubarinya yang membuatnya tergerak untuk menempati sebuah pekerjaan sosial ini.

Namun, keinginannya untuk terus berbagi membuatnya bergerak lebih dari yang menjadi tanggung jawab utamanya. “Berbagi itu menyenangkan, senang jika orang lain senang,” tutur wanita kelahiran Jambi ini.

Sampai dipertemukanlah dengan ustadz Yusuf Mansur dengan perantara media sosal. Ia mengaku menyukai ceramah sang ustadz, bagaimana dapat memotivasi jama’ah untuk bersedekah, dengan pembawaan khasnya.

Tidak sampai disitu, dokter ini juga bergabung bersama komunitas sedekah rombongan, akhir November 2014. Dengan ini, lebih banyak kesempatannya untuk terus berinteraksi dengan sedekah dan dunia sosial.

Akan tetapi, darah perjuangan membawanya mendengar kata hati yang berkata, “belum, masih banyak orang yang membutuhkan uluran tanganmu. Jangan hanya sampai disini.” Pengalaman baru terus dicarinya.

“Aduh, enak kali yah, bisa jadi dokter di lingkungan santri. Bisa sedikit merasakan suasananya,” ucapnya dalam hati, ketika berkunjung ke Daarut Tauhid, di Bandung.

Harapan itu terus berputar difikirannya. Bermodalkan sedekah yang setiap hari ia genjot, ditunjang dengan profesi dan kesibukannya di organisasi sosial, membuatnya makin semangat berbagi.

“Rasanya ada yang kurang, kalau belum sedekah sehari saja. Kemana nih, sedekah hari ini,” ungkapnya.

Tidak lupa, sholat sunnah dhuha pun menjadi senjatanya. Ia menjelaskan, kalau tahajud, bismillah, tengah diistiqamahkan.

Seperti mimpi baginya, impiannya untuk mengenyam rasanya menjadi santriwati terwujud. Alhamdulillah, ia mendapat tawaran untuk menjadi dokter di Pesantren Tahfidz Daarul Qur’an Putri, yang berada di Cikarang.

“Tak jadi santri pun, tak apalah. Yang penting bisa merasakan indahnya suasana pesantren,” ucapnya. Waktu yang ditawarkan tiga bulan, terhitung dari februari sampai maret 2016.

Namun, belum setengah perjalanan di pesantren. Ia mendadak mendapat tugas ke kota asalnya, yaitu Jambi. Terpaksa, ia pun harus merelakan posisinya di pesantren terselesaikan oleh rekannya.

“Alhamdulillah, walaupun sedikit sedih, tapi hikmahnya saya dapat mudik,” jelasnya, dengan tersenyum.




Testimoni lainnya ..



Arsip Testimoni