Testimoni Sedekah

Ustad Mad Rais - Hanya Karena Lillahi Ta'ala

  2,777


Peluh bahkan darah mungkin sudah bercucuran dari para pejuang dakwah, yang merelakan seluruh hidupnya untuk Allah. Kasat mata, perjalanan mereka tak penuh dengan liku. Namun, ajaklah lensa pembesar untuk mendelik perca demi perca tapak mereka.

Tak ada yang dapat menggantikan jasanya, sebagaimana para syuhada yang telah gugur di medan perang di atas kalimat 'laailaahaillallah'. Maka tak salah, jika peran mereka berseru 'pahlawan tanpa tanda jasa'.

Untuk memuliakan guru-guru besar ini, dimulai dari pengajar Alqur'an, pendakwah dan penderma lainnya. PPPA Daarul Qur'an menghadirkan program Simpatik Guru.

Alhamdulillah, Jumat (29/7) lalu, PPPA Daarul Qur'an menyambangi salah satu tempat pendakwah Alqur'an tersebut. Sekaligus untuk melakukan silaturrahim, kunjungan ini dalam rangka Monitoring Evaluasi (Monev).

Ba'da sholat Ashar, Alhamdulillah Tim PPPA Daarul Qur'an yang dipimpin oleh Abdi Husni Dermawan tiba di masjid Al-Muhajir, Sindang Mulya, Bekasi. Ialah Ustad Mad Rais, bersama sang istri, Munawaroh, menjadi pengajar setia di masjid tersebut.

Berasal dari keluarga santri, membuat pria kelahiran 1973 ini sangat kental dengan agama. Perjuangannya pun dimulai pada tahun 2000, ketika ia berusia 26 tahun, setelah keluar dari pesantrennya.

Ustad Mad Rais yang kala itu masih single, mendapat penggilan untuk menjadi guru ngaji di sana. Tak ada keraguan, kesempatan itu langsung ia sergap. Alhamdulillah, awal-awal, banyak jamaah yang mengaji, bahkan sebagian besar dari kalangan orang tua.

Tapi, rasa gambiranya itu tak berjalan sendiri, melainkan ditemani pula kegusaran dan cobaan yang bertubi-tubi. Beberapa tahun awal, cibiran dan tentangan dari masyarakat yang kurang sepaham dengannya pun silih berganti menyeretnya dalam kebimbangan. Apakah akan bernasib sama dengan ustad-ustad sebelumnya, untuk segera hengkang dari tempat tersebut.

Belum lagi, ditambah biaya hidup yang semakin hari, semakin mencekik kantong dan lehernya. Tak ada kesempatan untuk beristirahat sejenak, ia hanya siasati dengan puasa dan berdoa, tak lebih.

"Tak ada alasan lain saya untuk bertahan di sini kecuali hanyalah Allah SWT semata, jadi sebelum Allah meminta saya untuk pulang, pantang bagi saya untuk angkat kaki," tegas ustad Mad Rais.

Anak kelima dari sebelas bersaudara ini pun mengungkapkan, hasratnya hanya untuk ibadah saja, berkumpul dengan anak-anak, bisa sholat berjamaah. Terlebih, dapat meneruskan semangat juang orang tuanya yang telah tiada.

Masalah dan dera cobaan terus berdatangan hingga sampai saatnya dipertemukan dengan Munawaroh, istrinya. Dari situ, masalahnya dapat dibagi dua, dengan sang istri.

Mau tidak mau, persoalan tempat tinggal muncul diantara mereka, yang mana saat itu masih hidup di petak kontrakan sederhana. "Enak kali yah, punya rumah sendiri," gumamnya dalam kesunyian malam. Terus mengkhayal dan tak lupa berdoa.

"Tak disangka, Alhamdulillah pada 2009, entah uang dari mana, Allah memberi saya dan istri sebuah rumah. Padahal, kalau dipikir gaji saya hanya ratusan ribu saja," tuturnya.

Memang, Allah sebaik-baiknya pemberi hadiah, berawal dari ucapan belaka ba'da sholat Jumat akan keinginanya untuk melaksanakan ibadah Umrah. Allah gerakkan salah seorang warga untuk memanggilnya ke rumah.

Pikirnya, mungkin akan diberi air zam-zam atau sekedar oleh-oleh, karena salah seorang jamaahnya tersebut baru tiba dari ibadah Umrah pula. Namun, yang tak disangka-sangka. Jamaahnya itu menyodorkan uang untuk berangkat Umrah. Subhanallah, hingga uang saku pun ia berikan.

"Yaa Allah, nggak enak amat berangkat Umrah sendirian. Kalau boleh, saya mau ajak juga istri," doanya.

Dan, laahaulawalaakuwatailabillah, sang istri pun dapat mendampinginya berangkat ke tanah suci. Dari hasilnya menjual beberapa barang dan bantuan masyarakat.

"Di Mekah sana, saya berdoa agar dapat diistiqamahkan dalam mengajar anak-anak. Dan, semoga Allah turunkan kepada kami, rizki yang tidak payah kami menggapainya," jelas ustad Mad Rais.

Sepulangnya pun, Taman Pendidikan Alqur'an yang ia dirikan sejak pertama kali hadir di sana terus ia kembangkan bersama sang istri. Kini, kurang lebih 40an anak menjadi santrinya.

Setiap sore, ba'da Ashar, mereka belajar fiqih, Alqur'an, dan laninnya, kecuali Sabtu dan Ahad. Muncullah sebuah pertanyaan, apakah alasannya segigih ini dalam bedakwah?

Dengan tegas ia menjawab, "Lillahi ta'ala, hanya Allah tujuan kami."

Hingga kini, Alhamdulillah, bantuan yang disalurkan oleh PPPA Daarul Qur'an dipergunakannya untuk kebutuhan sekolah anak-anaknya, pasalnya ia sendiri mempunyai tiga anak. "Terima kasih, hanya itu yang dapat kami sampaikan ke PPPA Daarul Qur'an, semoga program ini terus menyebar ke seluruh Indonesia," harapnya.

Koordinator Monev, Abdi berkata, "Alhamdulillah, kami dipertemukan dengan Ustad Mad Rais. Semoga semakin banyak perjuang Alqur'an sepertinya."

Doakan juga, lanjut ia, semoga program Simpatik Guru untuk seluruh Indonesia terlaksana dengan baik dan istiqamah. Dengan harapan guru-guru kita dapat hidup sejahtera, dan terus mencetak calon pembesar bangsa, aamiin.




Testimoni lainnya ..



Arsip Testimoni