Testimoni Sedekah

Asep Suwandi - Sabar Itu Juga Sedekah

  4,608


Asep Suwandi, lelaki yang 24 tahun lalu tiba di dunia ini. Datang, tanpa membawa apa-apa, bahkan seuntai benang sekalipun. Perjalanan hidupnya pun tak berjalan dengan mudah hingga sampai saat ini. Tak sedikit halang rintang yang datang menghampiri.

Hingga suatu ketika menghantarkannya ke sebuah pabrik sepatu di daerah Cikupa, Tangerang, Banten, 2010 silam. Saat itu, ia diamanahkan sebagai Operator dan sudah mulai mengenal Ustad Yusuf Mansur.

Ia mengatakan, sudah mengenal PPPA Daarul Qur'an sejak masa-sama sekolah lalu melalui layar televisi.

Dari sana, ia mulai giat mengikuti kajian-kajian Ustad Yusuf Mansur, salah satunya Kajian Ahad. Asep melihat, kajian yang disampaikan Ustad Yusuf Mansur mudah dipahami dan merakyat, istilah kekiniannya yakni frendly. Namun, hal tersebut-lah yang dari kaca matanya justru mengena di hati.

Menurutnya, hidup tak hanya masalah dirinya dengan Allah semata, atau habluminallah. Melainkan, juga harus diimbangi dengan habluminannas-nya, yaitu hubungan baik dengan sesama makhluk ciptaan-Nya, terutama manusia.

Hal itu ia teguhkan setelah berkali-kali mendengar dan melihat langsung tausiyah Ustad Yusuf Mansur yang banyak menyeru tentang keajaiban sedekah. Bagaimana bisa, manusia kikir dan gila akan hartanya, jika semua itu pun hanya titipan dari Allah.. Ya, titipan saja, yang sewaktu-waktu dapat diambil oleh-Nya.

"Melalui sedekah ini, Allah mengajarkan langsung kepada kita untuk kasih mengasihi kepada orang lain. Bukankah indah jika ummat muslim itu gemar berbagi," ujarnya.

Keyakinannya akan sedekah, menuntun kakinya untuk kerap melangkah ke kantor pusat PPPA Daarul Qur'an yang berada di ujung Banten, yaitu Kawasan Bisnis CBD, Ciledug. Sedangkan, kediamannya sendiri lumayan jauh, di Tangerang.

Putra dari Enur Sanuri dan Masitoh ini menjelaskan, dirinya sengaja ke kantor PPPA Daarul Qur'an untuk bersedekah. Menyisihkan sebagian penghasilannya, untuk kaum yang jauh lebih membutuhkan. Subhanallah.

Berapa presentase orang yang tergolong muzaki di Indonesia ini? Apakah angka tersebut masih kalah, dibanding para mustahik ?

Adabnya, tak perlu ada kelaparan serta kemiskinan pun, manusia sudah gemar berbagi. Apalagi, ketika mengaku jika dirinya adalah seorang muslim.

Namun, apa yang kita simak bersama-sama, penderitaan tak berujung untuk satu golongan. Sedang, golongan yang lain bergelimang dengan dunia.

Asep, pemuda yang sadar akan hal tersebut, tidak ingin hartanya hanya akan membawa ia dan keluarga ke jurang neraka jahannam. Dengan penghasilan yang secukupnya, ia rutin berbagi nikmat Allah SWT, salah satunya adalah materi.

Tak ia pahami, mungkin kedermawaannya itulah yang membawanya masih dapat bertahan di pekerjaannya tersebut. Mengingat, telah banyak rekan-rekan satu angkatannya yang satu persatu angkat koper.

Ia berkata, "saya tidak tahu pasti alasannya, namun kebanyakan dari mereka merasa kurang betah dan mengeluh, hingga akhirnya memilih mencari pekerjaan lain."

Hanya yang ia genggam, satu kebaikan, InsyaAllah akan Dia ganti dengan 10 kebaikan. Bahkan, hingga yang kita tidak pernah memahami, semua itu adalah pemberian-Nya. Seperti, nikmatnya udara yang gratis ini.

"Bukankah, Allah sendiri yang berfirman di Alqur'an, bahwa siapapun yang meminjamkan harta di jalan-Nya. Niscaya akan Allah kembalikan dengan bentuk, nilai dan ukuran yang terbaik," jelas Asep.

Kisah Asep, dan para penderma sedekah, merupakan teladan yang patut kita semua tiru. Bukan hanya budaya barat saja-lah yang dijiplak. Sedangkan ajaran Allah dan Rasul diabaikan.

Melainkan, pelajaran yang dapat kita bawa ke alam akhirat, untuk menjadi sedikit pemberat di timbangan amal kebaikan. Karena, tidak akan ada yang tahu kapan dan dengan cara seperti apa Allah akan memanggil kita.

Terlebih, kita pun tidak pernah dapat memastikan, ibadah yang selama ini dirasa telah menggunung, ternyata sia-sia di mata Allah, karena kurang bersihnya hati ini.




Testimoni lainnya ..



Arsip Testimoni