Testimoni Sedekah

Sri Sugiyanti - Setelah Lama Putraku Tak terbangun

  1,948


Hari Anak Nasional diperingati setiap 23 Juli sesuai dengan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 44 Tahun 1984, pada 19 Juli 1984 silam. Namun, bagi seorang ibu, kasih sayang kepada anaknya tidak pernah terikat oleh waktu. Sejak ia berada di rahim seorang ibunya, bahkan sebelum buah hati itu hadir di dunia pun, rasa rindu sudah tumbuh di lubuk hati.

Maka, sangat tidak berprikemanusiaan jika ada orang tua yang menelantarkan anaknya. Karena, anak merupakan titipan Allah, yang suatu saat nanti Dia mintai pertanggung jawabannya.

Kecintaan Sri Sugiyanti kepada anak-anaknya pun luar biasa. Namun, tak pernah disangka, anak kedua dari buah cintanya dengan Khoirul Subhi yang bernama Salman Alfarizi, harus merasakan gelapnya saat-saat koma. Padahal, usia anaknya tersebut masih sangat belia, yaitu baru menginjak 6 tahun pada 2013 silam.

Hal tersebut membuat Yanti, sapaan akrabnya risau tak berujung. Anak yang selama ini menjadi penyejuk hati dan matanya, harus tergolek lemas di atas dipan rumah sakit. Untuk seorang ibu, dirinya begitu sangat terpukul dengan kejadian ini.

"Awalnya, tidak ada gejala apapun. Salman hanya panas biasa selama satu hari, lalu.. Ia tak sadarkan diri," ucap Yanti.

Dirinya dan suami langsung membawa anaknya ke rumah sakit. Hingga dokter angkat bicara perihal yang tengah diderita Salman, Yanti dan Khairul hanya mampu berdoa. Semoga tidak terjadi hal yang tak mereka harapkan.

Mereka bermunajat siang dan malam untuk kesembuhan si buah hati tersayang. Hingga dua pekan lamannya, ia terus berharap Salman dapat membuka matanya.

Ternyata, apa yang disampaikan dokter sungguh bagai petir yang menyambar. Merobek hati dan harapannya.

Tepat ba'da sholat Maghrib, dokter berkata, "anak bapak dan ibu koma, dan tidak dapat tertolong lagi." Ucapan Dokter yang membuat tulangnya serasa melunak.

Namun, Yanti tidak menyerah. Walaupun dokter sudah angkat tangan dengan apa yang diderita anak kesayangannya itu. Ia masih tetap percaya dengan keajaiban dari Allah. Dia yang berkehendak, bukan manusia, karena di genggaman-Nya takdir seluruh makhluk.

"Saya yakin dari berkah silaturrahim dan sedekah yang kami gerakkan," tutur Yanti dengan tegar.

Mengingat, ia dan suami adalah seorang plagiat sosial yang aktif hingga saat ini. Mereka menjadi provikator sedekah di beberapa komunitas. Bahkan, ia pun turut aktif berperan dalam membantu korban kebakaran di Simprug, Kel. Grogol Selatan, Kec. Kebayoran Lama, Jakarta Selatan lalu.

Alhamdulillah, dari keloyalannya itu, ia menjadi orang yang disegani. Terbukti, banyak donatur, kolega hingga rekan-rekan komunitas yang datang dan memberi dukungan. Tidak hanya berbentuk doa, namun mereka juga membantu dalam hal materi.

"Kami yakin, pokonya Salman bisa bangun. Kami tunggu hingga dia membuka mata, yakin ada kuasa Allah yang paling tinggi. Jadi, dokter boleh berkata apa saja, tapi yang punya kuasa dan keputusan hanya Allah," tegas Yanti dan Khairul.

Akhirnya, harapan yang membuatnya lupa makan dan istirahat pun muncul. "Tepat sehabis sholat Dhuha, sekitar pukul 10.00 pagi, dokter memanggil saya," jelasnya.

Ia melanjutkan, ternyata di ruang ICU, dilihat olehnya si penyejuk hati tengah berbincang dengan dokter dan perawat. Salman terbangun.

"Salmaaan.. " isaknya dalam hati.

Dipeluk olehnya Salman yang nampak bingung dengan apa yang terjadi. Tak henti, ia bersyukur kepada Allah atas keajaiban-Nya.

"Allah-lah penolong kami. Padahal, baru Maghrib kemarin dokter mengatakan agar tidak berharap banyak. Kalaupun Salman terbangun, kondisinya bisa jadi abnormal," papar Yanti.

Luar biasanya, setelah tragedi yang menguras banyak air mata dan tenaganya itu. Yanti dan suami tidak berhenti untuk mengajak orang untuk bersedekah.

Dirinya kerap berkeliling berbagi nasi di setiap pekannya. Provokator sedekah pun melekat pada mereka berdua. "Kami percaya kepada Allah, pada intinya mengajak orang agar sama-sama merasakan keajaiban sedekah," imbuh Yanti.




Testimoni lainnya ..



Arsip Testimoni