Testimoni Sedekah

Dian Fitriani - Kala Hijrah Mendatangiku

  4,379


 

Terkadang kita sebagai manusia, selalu bertanya-tanya. Mengapa hidup begini-begini saja? Atau mengapa rezeki susah sekali, padahal sudah berusaha begini begitu? Bekerja, shalat, sedekah, telah dijalankan.

Seperti inilah yang pernah dirasakan Dian Fitriani, beberapa tahun lalu. Seorang wanita muda berusia 25 tahun, yang saat ini tengah mengenyam pendidikan di STMIK Antar Bangsa.

Ia nampak termenung, mengenang masa lalu. Sesekali tertunduk malu, mengingat yang terjadi kala itu. "Saya pernah berjualan bakso, saat teman-teman yang lain belajar di perguruan tinggi," terangnya lesu.

Kala itu, lanjut ia, sulit sekali mencari rezeki yang cukup. Bahkan, ber-angan untuk belajar di perguruan tinggi pun nampaknya sulit dan berat. Mengumpulkan, biaya sendiri tidaklah mudah. "Teringat, saat itu upah saya hanya Rp 100 ribu per bulannya. Untuk sehari-hari saja, sudah minim bagaimana dengan kuliah ?," katanya

Namun, kalau Allah sudah berkehendak, jalan rezeki pun datang, tanpa diduga. Ia pun menyadari, bukan waktunya membebani hidup kepada ibundanya, mengingat sang ayah telah wafat saat ia masih belia.

Langkah pertamanya adalah hijrah menjadi lebih baik. Mengingat, sebelumnya ia ia jauh dari Islam yang susungguhnya. Alhamdulillah, hingga kemudian ada seorang kawan yang menawarkan pekerjaan di sebuah cafe, sebagai seorang kasir. Ditambah, tersedianya tempat tinggal untuk karyawan.

Meskipun begitu, tak membuat lebih mudah. Karena, upah yang diperolehnya hanya kisaran Rp 100 ribu per bulannya. "Syukuri, Alhamdulillah masih ada pekerjaan. Bertahan, InsyaAllah bisa bertahan," benak Dian saat itu.

Hingga suatu ketika, ia memutuskan untuk berhenti dan beralih sebagai pelayan tukang bakso di Kampus IAIN Serang. Namun, seringkali ia merasakan sedih. "Melihat orang lain bisa kuliah. Sedang saya sendiri harus berjualan bakso, rasanya sedih," kenangnya.

Kemudian, beralih tempat kerja di sebuah butik, sebagai kasir. Namun, lagi-lagi, ia dikecewakan dengan upah yang tidak sesuai dengan perjanjian. “Mungkin saya ini banyak dosa, sehingga rezekinya susah sekali,” ujarnya.

Hingga akhirnya, ia memutuskan untuk berjualan kue khas buatannya di sekitar masjid. Alhamdulillah, perlahan menjadi lebih baik. Tak hanya itu, ia mendapat kabar baik esok harinya. Ia mendapatkan beasiswa di STMIK Antar Bangsa. Keinginannya untuk belajar di perguruan tinggi, tercapai.

Ditambah, ia mendapatkan uang saku sebesar Rp 500 ribu, dari salah satu Dosen di Universitas Darunnajah, Cipulir. "Aneh, saya sendiri juga bingung. Kok ada orang yang bersedia memberikan uang saku kepada saya," pikirnya.

Bersyukur, hal yang ia lakukan setiap harinya. Sekarang, ia tengah serius belajar Sistem Informasi di perguruan tinggi yang digagas Ust Yusuf Mansur itu. Tak tertinggal, terus berupaya meningkatkan hafalan yang dimiliknya.

 




Testimoni lainnya ..



Arsip Testimoni