Testimoni Sedekah

Nurbaiti - Sedekah Mengajarkanku Arti Keridhoan Orangtua

  3,652


Setiap hamba yang beriman tentulah meyakini bahwa manusia, bahkan tiap-tiap makhluk Allah mempunyai jodoh. Namun, dengan orang seperti apa dan siapakah, hanya Dia yang mengetahui.

Polemik tentang jodoh memang selalu menarik untuk dijadikan sebagai topik pembahasan. Tak sekedar membahasnya, Nurbaiti membawa peraduan ini ke atas sajadah. Sebagaimana yang diajarkan oleh para guru, termasuk Ustad Yusuf Mansur.

Pasalnya, dalam kesendirian itu, ia mendambakan sosok lelaki yang dapat membimbingnya menuju jalan syurga. Serupa kaum muslim, senjatanya pun hanyalah doa.

Lalu, bagaimana agar doa itu dikabulkan? Jawabannya adalah mendekati Sang Pendengar dan Pengabul doa. Melaksanakan perkara wajib, menghidupkan yang sunnah dan fadhoilul a'mal lainnya.

"Tawakal terus ditegakkan hingga setahun lebih lamanya. Namun, hanya dihiasi oleh para pesinggah yang sekedar mewarnai hati dan pikiran saja," ucap Nurbaiti.

Kerelaan hati itu membawa restu kepada adik kandungnya untuk menikah terlebih dahulu. Namun, disela gonjang-ganjing hati, ia memberanikan diri untuk mendatangi Ustad Yusuf Mansur, salah satu motivator hijrahnya.

Tepat gema adzan sholat 'Isya, Nurbaiti terburu untuk sejenak curhat kepada sang ustad. "Sedekah ya.. Sedekah bukan hanya bikin kaya, tapi juga membuka jalan keluar. Tak apa adik ente duluan, itu namanya sedekah waktu," terang Ustad Yusuf Mansur menjawab curahan hati Nurbaiti.

Ustad Yusuf Mansur pun menyarankan agar bersedekah ke anak yatim dan tak lupa untuk mendoakannya. Hingga, sebulan setelahnya, sedekah yang biasanya ia antarkan ke PPPA Daarul Qur'an, kini beralih ke anak yatim di sekitar rumah.

Nurbaiti menjelaskan, singkat cerita, sekitar dua pekan setelah sedekah ke anak yatim itu, pagi harinya terasa berbeda. Seperti ada yang berbisik perlahan, bersamaan dengan degup jantung yang berpacu. Bisikan yang bersuarakan sholawat dan terus berulang hingga beberapa hari.

"Saya pun belum mengerti kenapa. Heran dan takjub, hanya menikmati dan berprasangka baik kepada Allah SWT. Maha suci Allah yang Memelihara segala hal tentang nabi-Nya dari perbuatan syaithan," tuturnya.

Alhamdulillah, tibalah kabar itu. Seorang rekan mengajak untuk silaturrahim ke salah satu kenalannya. Mendadak, terbesit doa yang pernah terdawamkan, "Allah.. Jika memang saatnya nanti Engkau pertemukan aku dengan seorang yang menjadi jodohku, aku mohon kretekkanlah hati ini, getarkanlah hati ini. Beri tahu aku, Ya Allah.. Sebagai tanda bahwa jodohku telah datang."

Tapi, takdir-Nya kembali berkata lain, petunjuk-Nya lewat sholat Istikharah yang Nurbaiti tegakkan menjadi alasannya. Selalu dalam sejudnya, ia berlafadz.

"Ya Allah.. Bukan saya mau sombong terhadap-Mu. Tapi, saya merasa tidak tahu lagi, apa yang harus saya lakukan. Kalau memang masih ada yang kurang, kasih tahu, Ya Allah. Sementara yakin yang saya mliki pun bukan sembarang yakin, tapi karena sebab nabi-Mu. Adakah hal lebih hebat dari itu, yang mampu mengalahkan keyakinan ini ?," Nurbaiti berdoa dala simpuhnya.

Bertambah lagi sedekahnya, ia lantas iringi dengan menyambangi pesantren tahfidz yatim. Kali itu, Nurbaiti benar-benar duduk dan berdoa bersama anak-anak yatim itu.

Saat itu keyakinannya semakin menguat. Optimis luar biasa, ia percaya, tak lama lagi, pasti Allah, Al-Fattah akan menjebol jalan jodohnya. Bersamaan dengan itu, hampir setiap orang di sekelilingnya, bahkan keluarga, meragukan dan mencibir apa yang ia yakini.

Nurbaiti hanya dapat berkata, "hanya Allah-lah yang mampu 'membeli' keyakinan saya ini, manusia tidak akan mampu."

Dan ternyata.. MaasyaaAllah.. Benar-benar Allah bukakan. Ba'da sholat Shubuh, rasa kantuknya kembali memberatkan mata. Tak kuasa, ia pun terlelap tidur.

Dalam pejaman matanya, Nurbaiti bermimpi berada di acara pernikahannya sendiri. Bersanding dengan lelaki yang sedari tadi tak mau menoleh ke arahnya. Lantas, hal yang mengejutkan datang, almarhum ayahandanya nampak menghampiri dari arah depan.

Bergegas, ia pun lari dan bersimpuh di depan kaki ayahnya. Setelah meminta maaf setulus hati kepada sang ayah, barulah calon suami dalam mimpinya itu menolehkan kepala ke arahnya.

"Beberapa hari setelah mimpi itu, air mata saya tumpah, bukan lagi mkirin jodoh. Melainkan kesalahan fatal saya kepada ayah. Sungguh, perkara jodoh hanyalah sebagai jalan pertaubatan saya kepada Allah," akunya.

Ia pun kembali mengingat masa-masa enam tahun sebelum ayahnya meninggal dunia. Mulai dengan cerita sewaktu ayahnya tengah sakit dan memanggil namanya berulang, tapi ia tak menghiraukan karena lelah sepulang kuliah.

Hingga, keesokan harinya setelah ia mengiraukan ayahnya, Nurbaiti kembali berangkat ke kosannya dan tidak bertemu sang ayah lagi. Berita buruk pun ia dapati, ayahnya meninggal dunia. Sedangkan, di hari akhir hayat, ia masih angkuh untuk memenuhi panggilan sang kepala keluarga itu.

Anak durhaka.. Menjadi bayangan yang terus terngiang dalam pikirannya. Serasa semua amal lenyap tak berbekas mengingat peristiwa itu.

"Tapi, inilah Kuasa Allah yang telah Dia Perlihatkan kepada saya. Alhamdulillah, Allah beri tahu dosa saya, agar cepat bertaubat. Kini, tak lupa dalam kesunyian malam, saya kirimkan sebait Al-Fatihah untuk ayah tercinta," imbuh Nurbaiti.




Testimoni lainnya ..



Arsip Testimoni