Testimoni Sedekah

Siti Suhaeni - Setelah Nyaris Murtad

  4,768


‘’Halah, sama aja!’’ Emosi Siti Suhaeni meletup. Merasa dikecewakan lagi oleh orang yang dianggapnya lebih tahu tentang agama Islam, perempuan ini jadi galau. Ia berkesimpulan, orang Islam saja saja. Mau ustadz kek, kyai kek. Nggak ada bedanya.

Bahkan saking mangkelnya, kakak dari delapan adik ini nyaris murtad untuk menikah dengan seorang pria lain agama. Untung ia masih dikelilingi oleh kawan-kawan yang peduli padanya.

Traumanya masih belum hilang, ketika Suhaeni diperkenalkan oleh teman-temannya kepada sosok Ustadz Yusuf Mansur.

Perempuan dari Balaraja, Tangerang, ini lalu coba menyimak taushiyah Ustadz Yusuf lewat Youtube, televisi, juga radio. Wih, asyik juga. Bahasanya gaul tapi isinya makjleb. Lajang ini pun mulai tertarik untuk menghadiri Kajian Bulanan di Masjid Istiqal, Jakarta Pusat.

Saripati dakwah Ustadz Yusuf Mansur adalah, tidak ada kehidupan tanpa masalah. Namun, sebesar-besarnya masalah, tidak akan pernah mampu melampaui kebesaran Allah SWT. Karena itu, untuk menyelesaikan masalah kehidupan seperti soal rejeki, jodoh, keturunan, utang-piutang, penyakit, dan sebagainya, kuncinya adalah: Allah dulu, Allah lagi, Allah terus.

Untuk menanggulangi masalah, langkah pertama adalah muhasabah. Membuka daftar 10 dosa besar, dan mengakui mana saja yang sudah dilakukannya. Lalu bertaubat nasuha, kemudian menjalani riyadhoh. Yaitu meningkatkan iman dengan mengaji, dan meningkatkan amal saleh, baik amal ritual maupun sosial. Misalnya bersedekah.

"Jujur saja, setiap saat mendengar ceramah Ustadz Yusuf Mansur, seperti mendapat tusukan pisau berkali-kali, mengingat kehidupan saya dulu," ujar wanita yang disapa akrab Olive.

Sekian lama mengikuti pesan-pesan dakwah Ustadz Yusuf, Olive akhirnya sampai pada titik balik dalam kehidupannya. Ia memutuskan untuk meninggalkan lembar kehidupan buram, dan memulai lagi semuanya dari awal.
Olive memulai ikrarnya dengan sedekah yang menggetarkan hati. Dia sedekahkan semua harta berharga yang dimilikinya.

Setelah itu, perlahan ia mulai memperbaiki ibadahnya; Menegakkan sholat lima waktu yang sebelumnya ia tinggalkan, juga menjalankan puasa yang sebelumnya ia lupakan, dan mengaji yang sebelumnya ia abaikan.

Olive menceritakan, dua hari setelah ia menyedekahkan motor kesayangannya melalui PPPA Daarul Qur'an, tanpa diduga ia mendapatkan motor baru dari orangtuanya.

Selain itu, seminggu ba’da menyedekahkan tabungannya, ia mendapat rejeki berupa tanah yang luasnya lumayan.
Saking getolnya bersedekah, Olive bahkan mengumpulkan koin per koin setiap harinya, untuk disedekahkan.

"Alhamdulillah, sedikit-sedikit dikumpulkan menjadi banyak juga. Tak terasa sekaleng dua kaleng besar terisi penuh dan bisa disedekahkan."

Selain itu, ia pun berharap suatu saat dapat mendirikan Rumah Tahfidz. ‘’Biar saya juga terpacu untuk menghafal Qur’an.’’

Olive juga mulai mengajak teman-temannya untuk membiasakan bersedekah. Dengan demikian, ia akhirnya menjadi simpul sedekah PPPA Daarul Qur'an. Amal sosial ini dia jalani hingga saat ini.

‘’Sejak melakukan hal itu semua, saya merasa lebih tenang. Setiap masalah pun terasa menjadi lebih ringan,’’ akunya.

Ia menambahkan, "Bahkan, hal yang tak mungkin dilakukannya, Allah yang mengubahnya menjadi mungkin. Berbagai hal yang saya pertanyakan sebelumnya, telah Allah jawab dengan cara-Nya, hingga saya mengerti.’’

Kini, dua tahun sudah Olive menjalani babak kehidupan barunya. Saat ia tak tahu harus berteduh di mana, Allah dekatkan tempat berteduh. Ke manapun dirinya pergi, tak pernah sekalipun ia terlantar. Pekerjaan pun silih berganti mendekatinya. Bahkan, kendaraan pun selalu tersedia kapanpun dibutuhkan.

"Saya sendiri pun tak menyangka dengan kehidupan saya sekarang. Padahal, rumah tak punya, pekerjaan tetap pun tak ada. Tapi, selalu ada saja rezeki yang datang setiap harinya," terang wanita kelahiran 1980 itu. Ajaran Islam ternyata tetaplah benar, nikmat dan indah, walaupun ada perilaku pemeluknya yang menodai.




Testimoni lainnya ..



Arsip Testimoni